SMP Walisongo Pecangaan
Unggul Dalam Prestasi… Santun Dalam Pekerti…

Jul
17

Bagi diri setiap anak, memasuki jenjang pendidikan formal yang baru merupakan sebuah masa ketika ia harus berhadapan dengan lingkungan dan dunia yang baru. Untuk itu, mereka memerlukan tahap peninjauan, pengenalan, dan adaptasi terhadap lingkungan baru yang mereka masuki. Tahap itulah yang akan mereka lalui dalam kegiatan Masa Orientasi Siswa Baru (MOSIBA) 2012.

Dalam kegiatan MOSIBA, hal terpenting yang harus diberikan kepada siswa baru adalah pengenalan budaya sekolah atau school culture yang merupakan pencitraan dari sekolah dan telah menjadi karakter sekolah itu sehingga menjadi terkenal. Para siswa baru perlu diperkenalkan hal seperti ini agar mereka tahu bahwa sekolahnya memiliki keunggulan tersendiri dan perlu perjuangan untuk mencapainya.

Dengan kondisi MOSIBA yang bersahabat, para siswa baru dapat dengan mudah mengaktualisasikan bakat dan kemampuannya dalam berbagai macam kegiatan, terutama seni dan ajang kompetisi lainnya. Dengan demikian, mereka dapat mengaktualisasikan potensi kreatif yang dimiliki.

MOSIBA bukanlah arena perpeloncoan para siswa baru.  MOSIBA adalah sarana siswa baru untuk lebih mengenal sekolahnya, kakak kelasnya, dan para guru-gurunya. Oleh karenanya, rasa saling menghargai harus ditumbuhkan kepada para siswa baru di SMP Walisongo Pecangaan Jepara.

Layaknya memasuki dunia baru, tentu ada perasaan asing dalam diri mereka terhadap lingkungan teranyarnya. Di sinilah pentingnya sebuah proses pengenalan, pembelajaran, dan pemahaman segala macam yang melekat pada lingkungan baru mereka. Semua proses kegiatan itulah yang terangkum dalam kegiatan MOSIBA di sekolah kami tercinta.

Sebagai siswa baru, tentu bagi yang putra rambutnya harus dirapihkan sesua dengan aturan sekolah, dan putrinya dikuncir satu agar setiap kegiatannya tidak terganggu oleh rambutnya. Termasuk pembuatan name tag atau papan nama untuk identitas peserta MOSIBA 2012 yang setiap tahun memiliki kreativitasnya sendiri sesuai dengan kepengurusan OSIS yang menjadi panitianya.

Dalam kegiatan MOSIBA pasti ada tujuan yang ingin dicapai. Tujuan yang hendak dicapai dalam kegiatan MOSIBA itu adalah :

  1. Memperkenalkan siswa pada lingkungan fisik sekolah yang baru mereka masuki
  2. Memperkenalkan siswa pada seluruh komponen sekolah beserta aturan, norma, budaya, dan tata tertib yang berlaku di dalamnya.
  3. Memperkenalkan siswa pada keorganisasian
  4. Memperkenalkan siswa untuk dapat menyanyikan lagu hymne dan mars sekolah
  5. Memperkenalkan siswa pada seluruh kegiatan yang ada di sekolah
  6. Mengarahkan siswa dalam memilih kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan bakat mereka
  7. Menanamkan sikap mental, spiritual, budi pekerti yang baik, tanggung jawab, toleransi, dan berbagai nilai positif lain pada diri siswa sebagai implementasi penanaman konsep iman, ilmu, dan amal
  8. Menanamkan berbagai wawasan dasar pada siswa sebelum memasuki kegiatan pembelajaran secara formal di kelas.
Untuk mencapai tujuan di atas, diperlukan sebuah kegiatan MOSIBA yang kreatif. Kemampuan setiap anak dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya memang berbeda-beda. Untuk itu perlu ada suatu panduan kegiatan dan bimbingan yang cukup terarah dari para guru dan kakak kelas kepada siswa baru yang dapat membantu mereka beradaptasi dengan baik dan secepat mungkin di lingkungan baru. MOSIBA bisa menjadi media untuk beradaptasi dengan lingkungan belajar yang baru.

Dari berbagai aktivitas yang diberikan selama MOSIBA akan dapat mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki siswa, mengenalkan budaya sekolah, dan saling berinteraksi dengan teman-teman baru. Potensi kreatif siswa pun akan muncul melalui kegiatan pentas seni yang memberikan kesempatan kepada siswa baru untuk unjuk gigi memperlihatkan kebolehannya masing-masing.

Kegiatan MOSIBA tahun pelajaran 2012-2013  yang diadakan sekolah kami dilaksanakan dari tanggal 16 s.d. 18 Juli 2012, di mulai hari pertama para siswa diberikan gambaran tentang Ekstrakurikuler yang ada di SMP Walisongo Pecangaan Jepara sekaligus dengan tes Minat dan Bakat.  Para Siswa Baru SMP Walisongo Pecangaan Jepara

Materi-materi yang diberikan pada kegiatan MOSIBA selama tiga hari itu adalah :

  • Pengenalan Sekolah
  • Misi dan Visi Labschool
  • Pengenalan Tata Tertib Sekolah
  • Pengenalan lingkungan dan fasilitas yang ada di sekolah
  • Cara belajar Efektif
  • Kebijakan Umum sekolah, baik Kegiatan Akademik mapun Kesiswaan
  • Pelayanan Bimbingan dan konseling
  • Achievement Motivation Training (AMT)
  • Pengenalan Perpustakaan Labschool
  • School Culture
  • Respect each Other
  • Pendidikan Karakter
  • Pengenalan majalah sekolah Gema
  • Pengenalan Organisasi (OSIS) oleh Pengurus OSIS
  • Pengenalan dan  latihan PBB
  • Pengenalan Ekstra kurikuler
  • Bulying dan dampaknya bagi perkembangan mental Siswa
  • Unjuk Gigi siswa baru melalui kegiatan Pentas Seni.

Ketika sebuah sekolah terasa aman dan nyaman, maka akan diperoleh suasana pembelajaran yang menyenangkan. Ketika suasana telah menyenangkan, maka segudang prestasi akan muncul. Prestasi akan mencuat ke permukaan ketika para siswa telah mengenal budaya sekolahnya. Oleh karena itu para guru dan stage holder yang ada di dalam sekolah jangan lupa untuk mengenalkan budaya sekolahnya yang unik. Marilah kita mengenalkannya melalui MOSIBA yang rutin tiap tahun kita laksanakan di sekolah.

Mei
07

Pergelaran Piala Eropa (Euro Cup) 2012 Pada bulan Juni tahun ini akan diselenggarakan di 2 Negara yaitu Ukraina dan Polandia. Jadwal pertandingannya pun sudah ditentukan oleh Panitia penyelenggara.

Anda bisa melihat jadwal keseluruhan Piala Eropa 2012 melalui jadwal yang telah dibuat oleh team Excely dalam format Microsoft Excel (*.xls).

Cara menggunakannya cukup sederhana, Anda hanya mengisi skor pertandingan kemudian sistem akan membaca hasil dan otomatis memberikan peringkat grup dan Negera mana yang akan lolos ke fase selanjutnya sampai ke Negara pemenang Euro 2012. Algoritma juga mampu mengelola kasus jika skor sama, sehingga tim selalu diurutkan dengan benar dan sepenuhnya secara otomatis, tanpa penyortiran manual (tidak seperti di jadwal lainnya).

Pelaksanaan Euro 2012 ini menggunakan 4 stadion dari Negara ukraina dan 4 lainnya dari Negara Polandia.

Silahkan download dengan mengklik link download di bawah ini. Jika jadwal ini bermanfaat jangan lupa untuk share ke teman-teman Anda lainnya. Terima kasih.

 

Jadwal Pertandingan EURO 2012

Des
01

Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember diperingati untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.

Konsep ini digagas pada Pertemuan Menteri Kesehatan Sedunia mengenai Program-program untuk Pencegahan AIDS pada tahun 1988. Sejak saat itu, ia mulai diperingati oleh pihak pemerintah, organisasi internasional dan yayasan amal di seluruh dunia.

Hari AIDS Sedunia pertama kali dicetuskan pada Agustus 1987 oleh James W. Bunn dan Thomas Netter, dua pejabat informasi masyarakat untuk Program AIDS Global di Organisasi Kesehatan Sedunia di Geneva, Swiss.Bunn dan Netter menyampaikan ide mereka kepada Dr. Jonathan Mann, Direktur Pgoram AIDS Global (kini dikenal sebagai UNAIDS). Dr. Mann menyukai konsepnya, menyetujuinya, dan sepakat dengan rekomendasi bahwa peringatan pertama Hari AIDS Sedunia akan diselenggarakan pada 1 Desember 1988.

Bunn menyarankan tanggal 1 Desember untuk memastikan liputan oleh media berita barat, sesuatu yang diyakininya sangat penting untuk keberhasilan Hari AIDS Sedunia. Ia merasa bahwa karena 1988 adalah tahun pemilihan umum di AS, penerbitan media akan kelelahan dengan liputan pasca-pemilu mereka dan bersemangat untuk mencari cerita baru untuk mereka liput. Bunn dan Netter merasa bahwa 1 Desember cukup lama setelah pemilu dan cukup dekat dengan libur Natal sehingga, pada dasarnya, tanggal itu adalah tanggal mati dalam kalender berita dan dengan demikian waktu yang tepat untuk Hari AIDS Sedunia.

Bunn, yang sebelumnya bekerja sebagai reporter yang meliput epidemi ini untuk PIX-TV di San Francisco, bersama-sama dengan produsennya, Nansy Saslow, juga memikirkan dan memulai “AIDS Lifeline” (“Tali Nyawa AIDS”) – sebuah kampanye penyadaran masyarakat dan pendidikan kesehatan yang disindikasikan ke berbagai stasiun TV di AS. “AIDS Lifeline” memperoleh Penghargaan Peabody, sebuah Emmy lokal, dan Emmy Nasional pertama yang pernah diberikan kepada sebuah stasiun lokal di AS.

Pada 18 Juni 1986, sebuah proyek “AIDS Lifeline” memperoleh penghargaan “Presidential Citation for Private Sector Initiatives”, yang diserahkan oleh Presiden Ronald Reagan. Bunn kemudian diminta oleh Dr. Mann, atas nama pemerintah AS, untuk mengambil cuti dua tahun dari tugas-tugas pelaporannya untuk bergabung dengan Dr. Mann (seorang epidemolog untuk Pusat Pengendalian Penyakit) dan membantu untuk menciptakan Program AIDS Global. Bunn menerimanya dan diangkat sebagai Petugas Informasi Umum pertama untuk Pgoram AIDS Global. Bersama-sama dengan Netter, ia menciptakan, merancang, dan mengimplementasikan peringatan Hari AIDS Sednia pertama – kini inisiatif kesadaran dan pencegahan penyakit yang paling lama berlangsung dalam jenisnya dalam sejarah kesehatan masyarakat.)

Program Bersama PBB untuk HIV/AIDS (UNAIDS) mulai bekerja pada 1996, dan mengambil alih perencanaan dan promosi Hari AIDS Sedunia. Bukannya memusatkan perhatian pada satu hari saja, UNAIDS menciptakan Kampanye AIDS Sedunia pada 1997 untuk melakukan komunikasi, pencegahan dan pendidikan sepanjang tahun.

Pada dua tahun pertama, tema Hari AIDS Sedunia dipusatkan pada anak-anak dan orang muda. Tema-tema ini dikiritk tajam saat itu karena mengabaikan kenyataan bahwa orang dari usia berapapun dapat terinfeksi HIV dan menderita AIDS.  Tetapi tema ini mengarahkan perhatian kepada epidemi HIV/AIDS, menolong mengangkat stigma sekitar penyakit ini, dan membantu meningkatkan pengakuan akan masalahnya sebagai sebuah penyakit keluarga.

Pada 2004, Kampanye AIDS Sedunia menjadi organisasi independen.

Naaah, bertepatan dengan hari nie,, Mari kita tingkatkan kesadaran kita akan bahaya AID, bergaul boleh saja asal tau batas – batasnya,,

Berhati – hatilah …. :) :D

Des
01

 

Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV;[1] atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).

Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.

HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu.[2][3] Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.

Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara.[4] Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia.[5] Pada Januari 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja, dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya adalah anak-anak.[5] Sepertiga dari jumlah kematian ini terjadi di Afrika Sub-Sahara, sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menghancurkan kekuatan sumber daya manusia di sana. Perawatan antiretrovirus sesungguhnya dapat mengurangi tingkat kematian dan parahnya infeksi HIV, namun akses terhadap pengobatan tersebut tidak tersedia di semua negara.[6]

Hukuman sosial bagi penderita HIV/AIDS, umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Kadang-kadang hukuman sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS 

Gejala dan komplikasi

Berbagai gejala AIDS umumnya tidak akan terjadi pada orang-orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Kebanyakan kondisi tersebut akibat infeksi oleh bakteri, virus, fungi dan parasit, yang biasanya dikendalikan oleh unsur-unsur sistem kekebalan tubuh yang dirusak HIV. Infeksi oportunistik umum didapati pada penderita AIDS.[7] HIV memengaruhi hampir semua organ tubuh. Penderita AIDS juga berisiko lebih besar menderita kanker seperti sarkoma Kaposi, kanker leher rahim, dan kanker sistem kekebalan yang disebut limfoma.

Biasanya penderita AIDS memiliki gejala infeksi sistemik; seperti demam, berkeringat (terutama pada malam hari), pembengkakan kelenjar, kedinginan, merasa lemah, serta penurunan berat badan.[8][9] Infeksi oportunistik tertentu yang diderita pasien AIDS, juga tergantung pada tingkat kekerapan terjadinya infeksi tersebut di wilayah geografis tempat hidup pasien.

Penyakit paru-paru utama

Pneumonia pneumocystis (PCP)[10] jarang dijumpai pada orang sehat yang memiliki kekebalan tubuh yang baik, tetapi umumnya dijumpai pada orang yang terinfeksi HIV.

Penyebab penyakit ini adalah fungi Pneumocystis jirovecii. Sebelum adanya diagnosis, perawatan, dan tindakan pencegahan rutin yang efektif di negara-negara Barat, penyakit ini umumnya segera menyebabkan kematian. Di negara-negara berkembang, penyakit ini masih merupakan indikasi pertama AIDS pada orang-orang yang belum dites, walaupun umumnya indikasi tersebut tidak muncul kecuali jika jumlah CD4 kurang dari 200 per µL.[11]

Tuberkulosis (TBC) merupakan infeksi unik di antara infeksi-infeksi lainnya yang terkait HIV, karena dapat ditularkan kepada orang yang sehat (imunokompeten) melalui rute pernapasan (respirasi). Ia dapat dengan mudah ditangani bila telah diidentifikasi, dapat muncul pada stadium awal HIV, serta dapat dicegah melalui terapi pengobatan. Namun demikian, resistensi TBC terhadap berbagai obat merupakan masalah potensial pada penyakit ini.

Meskipun munculnya penyakit ini di negara-negara Barat telah berkurang karena digunakannya terapi dengan pengamatan langsung dan metode terbaru lainnya, namun tidaklah demikian yang terjadi di negara-negara berkembang tempat HIV paling banyak ditemukan. Pada stadium awal infeksi HIV (jumlah CD4 >300 sel per µL), TBC muncul sebagai penyakit paru-paru. Pada stadium lanjut infeksi HIV, ia sering muncul sebagai penyakit sistemik yang menyerang bagian tubuh lainnya (tuberkulosis ekstrapulmoner). Gejala-gejalanya biasanya bersifat tidak spesifik (konstitusional) dan tidak terbatasi pada satu tempat.TBC yang menyertai infeksi HIV sering menyerang sumsum tulang, tulang, saluran kemih dan saluran pencernaan, hati, kelenjar getah bening (nodus limfa regional), dan sistem syaraf pusat.[12] Dengan demikian, gejala yang muncul mungkin lebih berkaitan dengan tempat munculnya penyakit ekstrapulmoner.

 Penyakit saluran pencernaan utama

Esofagitis adalah peradangan pada kerongkongan (esofagus), yaitu jalur makanan dari mulut ke lambung. Pada individu yang terinfeksi HIV, penyakit ini terjadi karena infeksi jamur (jamur kandidiasis) atau virus (herpes simpleks-1 atau virus sitomegalo). Ia pun dapat disebabkan oleh mikobakteria, meskipun kasusnya langka.[13]

Diare kronis yang tidak dapat dijelaskan pada infeksi HIV dapat terjadi karena berbagai penyebab; antara lain infeksi bakteri dan parasit yang umum (seperti Salmonella, Shigella, Listeria, Kampilobakter, dan Escherichia coli), serta infeksi oportunistik yang tidak umum dan virus (seperti kriptosporidiosis, mikrosporidiosis, Mycobacterium avium complex, dan virus sitomegalo (CMV) yang merupakan penyebab kolitis).

Pada beberapa kasus, diare terjadi sebagai efek samping dari obat-obatan yang digunakan untuk menangani HIV, atau efek samping dari infeksi utama (primer) dari HIV itu sendiri. Selain itu, diare dapat juga merupakan efek samping dari antibiotik yang digunakan untuk menangani bakteri diare (misalnya pada Clostridium difficile). Pada stadium akhir infeksi HIV, diare diperkirakan merupakan petunjuk terjadinya perubahan cara saluran pencernaan menyerap nutrisi, serta mungkin merupakan komponen penting dalam sistem pembuangan yang berhubungan dengan HIV.[14]

 

Penyakit syaraf dan kejiwaan utama

Infeksi HIV dapat menimbulkan beragam kelainan tingkah laku karena gangguan pada syaraf (neuropsychiatric sequelae), yang disebabkan oleh infeksi organisma atas sistem syaraf yang telah menjadi rentan, atau sebagai akibat langsung dari penyakit itu sendiri.

Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit bersel-satu, yang disebut Toxoplasma gondii. Parasit ini biasanya menginfeksi otak dan menyebabkan radang otak akut (toksoplasma ensefalitis), namun ia juga dapat menginfeksi dan menyebabkan penyakit pada mata dan paru-paru.[15] Meningitis kriptokokal adalah infeksi meninges (membran yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang) oleh jamur Cryptococcus neoformans. Hal ini dapat menyebabkan demam, sakit kepala, lelah, mual, dan muntah. Pasien juga mungkin mengalami sawan dan kebingungan, yang jika tidak ditangani dapat mematikan.

Leukoensefalopati multifokal progresif adalah penyakit demielinasi, yaitu penyakit yang menghancurkan selubung syaraf (mielin) yang menutupi serabut sel syaraf (akson), sehingga merusak penghantaran impuls syaraf. Ia disebabkan oleh virus JC, yang 70% populasinya terdapat di tubuh manusia dalam kondisi laten, dan menyebabkan penyakit hanya ketika sistem kekebalan sangat lemah, sebagaimana yang terjadi pada pasien AIDS. Penyakit ini berkembang cepat (progresif) dan menyebar (multilokal), sehingga biasanya menyebabkan kematian dalam waktu sebulan setelah diagnosis.[16]

Kompleks demensia AIDS adalah penyakit penurunan kemampuan mental (demensia) yang terjadi karena menurunnya metabolisme sel otak (ensefalopati metabolik) yang disebabkan oleh infeksi HIV; dan didorong pula oleh terjadinya pengaktifan imun oleh makrofag dan mikroglia pada otak yang mengalami infeksi HIV, sehingga mengeluarkan neurotoksin.[17] Kerusakan syaraf yang spesifik, tampak dalam bentuk ketidaknormalan kognitif, perilaku, dan motorik, yang muncul bertahun-tahun setelah infeksi HIV terjadi. Hal ini berhubungan dengan keadaan rendahnya jumlah sel T CD4+ dan tingginya muatan virus pada plasma darah. Angka kemunculannya (prevalensi) di negara-negara Barat adalah sekitar 10-20%,[18] namun di India hanya terjadi pada 1-2% pengidap infeksi HIV.[19][20] Perbedaan ini mungkin terjadi karena adanya perbedaan subtipe HIV di India.

Kanker dan tumor ganas (malignan)

Sarkoma Kaposi

Pasien dengan infeksi HIV pada dasarnya memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap terjadinya beberapa kanker. Hal ini karena infeksi oleh virus DNA penyebab mutasi genetik; yaitu terutama virus Epstein-Barr (EBV), virus herpes Sarkoma Kaposi (KSHV), dan virus papiloma manusia (HPV).[21][22]

Sarkoma Kaposi adalah tumor yang paling umum menyerang pasien yang terinfeksi HIV. Kemunculan tumor ini pada sejumlah pemuda homoseksual tahun 1981 adalah salah satu pertanda pertama wabah AIDS. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari subfamili gammaherpesvirinae, yaitu virus herpes manusia-8 yang juga disebut virus herpes Sarkoma Kaposi (KSHV). Penyakit ini sering muncul di kulit dalam bentuk bintik keungu-unguan, tetapi dapat menyerang organ lain, terutama mulut, saluran pencernaan, dan paru-paru.

Kanker getah bening tingkat tinggi (limfoma sel B) adalah kanker yang menyerang sel darah putih dan terkumpul dalam kelenjar getah bening, misalnya seperti limfoma Burkitt (Burkitt’s lymphoma) atau sejenisnya (Burkitt’s-like lymphoma), diffuse large B-cell lymphoma (DLBCL), dan limfoma sistem syaraf pusat primer, lebih sering muncul pada pasien yang terinfeksi HIV. Kanker ini seringkali merupakan perkiraan kondisi (prognosis) yang buruk. Pada beberapa kasus, limfoma adalah tanda utama AIDS. Limfoma ini sebagian besar disebabkan oleh virus Epstein-Barr atau virus herpes Sarkoma Kaposi.

Kanker leher rahim pada wanita yang terkena HIV dianggap tanda utama AIDS. Kanker ini disebabkan oleh virus papiloma manusia.

Pasien yang terinfeksi HIV juga dapat terkena tumor lainnya, seperti limfoma Hodgkin, kanker usus besar bawah (rectum), dan kanker anus. Namun demikian, banyak tumor-tumor yang umum seperti kanker payudara dan kanker usus besar (colon), yang tidak meningkat kejadiannya pada pasien terinfeksi HIV. Di tempat-tempat dilakukannya terapi antiretrovirus yang sangat aktif (HAART) dalam menangani AIDS, kemunculan berbagai kanker yang berhubungan dengan AIDS menurun, namun pada saat yang sama kanker kemudian menjadi penyebab kematian yang paling umum pada pasien yang terinfeksi HIV.[23]

Infeksi oportunistik lainnya

Pasien AIDS biasanya menderita infeksi oportunistik dengan gejala tidak spesifik, terutama demam ringan dan kehilangan berat badan. Infeksi oportunistik ini termasuk infeksi Mycobacterium avium-intracellulare dan virus sitomegalo. Virus sitomegalo dapat menyebabkan gangguan radang pada usus besar (kolitis) seperti yang dijelaskan di atas, dan gangguan radang pada retina mata (retinitis sitomegalovirus), yang dapat menyebabkan kebutaan. Infeksi yang disebabkan oleh jamur Penicillium marneffei, atau disebut Penisiliosis, kini adalah infeksi oportunistik ketiga yang paling umum (setelah tuberkulosis dan kriptokokosis) pada orang yang positif HIV di daerah endemik Asia Tenggara.[24]

 

Penyebab

HIV yang baru memperbanyak diri tampak bermunculan sebagai bulatan-bulatan kecil (diwarnai hijau) pada permukaan limfosit setelah menyerang sel tersebut; dilihat dengan mikroskop elektron.

AIDS merupakan bentuk terparah atas akibat infeksi HIV. HIV adalah retrovirus yang biasanya menyerang organ-organ vital sistem kekebalan manusia, seperti sel T CD4+ (sejenis sel T), makrofaga, dan sel dendritik. HIV merusak sel T CD4+ secara langsung dan tidak langsung, padahal sel T CD4+ dibutuhkan agar sistem kekebalan tubuh dapat berfungsi baik. Bila HIV telah membunuh sel T CD4+ hingga jumlahnya menyusut hingga kurang dari 200 per mikroliter (µL) darah, maka kekebalan di tingkat sel akan hilang, dan akibatnya ialah kondisi yang disebut AIDS. Infeksi akut HIV akan berlanjut menjadi infeksi laten klinis, kemudian timbul gejala infeksi HIV awal, dan akhirnya AIDS; yang diidentifikasi dengan memeriksa jumlah sel T CD4+ di dalam darah serta adanya infeksi tertentu.

Tanpa terapi antiretrovirus, rata-rata lamanya perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS ialah sembilan sampai sepuluh tahun, dan rata-rata waktu hidup setelah mengalami AIDS hanya sekitar 9,2 bulan.[25] Namun demikian, laju perkembangan penyakit ini pada setiap orang sangat bervariasi, yaitu dari dua minggu sampai 20 tahun. Banyak faktor yang memengaruhinya, diantaranya ialah kekuatan tubuh untuk bertahan melawan HIV (seperti fungsi kekebalan tubuh) dari orang yang terinfeksi.[26][27] Orang tua umumnya memiliki kekebalan yang lebih lemah daripada orang yang lebih muda, sehingga lebih berisiko mengalami perkembangan penyakit yang pesat. Akses yang kurang terhadap perawatan kesehatan dan adanya infeksi lainnya seperti tuberkulosis, juga dapat mempercepat perkembangan penyakit ini.[25][28][29] Warisan genetik orang yang terinfeksi juga memainkan peran penting. Sejumlah orang kebal secara alami terhadap beberapa varian HIV. [30] HIV memiliki beberapa variasi genetik dan berbagai bentuk yang berbeda, yang akan menyebabkan laju perkembangan penyakit klinis yang berbeda-beda pula.[31][32][33] Terapi antiretrovirus yang sangat aktif akan dapat memperpanjang rata-rata waktu berkembangannya AIDS, serta rata-rata waktu kemampuan penderita bertahan hidup.

 

Penularan seksual

Penularan (transmisi) HIV secara seksual terjadi ketika ada kontak antara sekresi cairan vagina atau cairan preseminal seseorang dengan rektum, alat kelamin, atau membran mukosa mulut pasangannya. Hubungan seksual reseptif tanpa pelindung lebih berisiko daripada hubungan seksual insertif tanpa pelindung, dan risiko hubungan seks anal lebih besar daripada risiko hubungan seks biasa dan seks oral. Seks oral tidak berarti tak berisiko karena HIV dapat masuk melalui seks oral reseptif maupun insertif.[34] Kekerasan seksual secara umum meningkatkan risiko penularan HIV karena pelindung umumnya tidak digunakan dan sering terjadi trauma fisik terhadap rongga vagina yang memudahkan transmisi HIV.[35]

Penyakit menular seksual meningkatkan risiko penularan HIV karena dapat menyebabkan gangguan pertahanan jaringan epitel normal akibat adanya borok alat kelamin, dan juga karena adanya penumpukan sel yang terinfeksi HIV (limfosit dan makrofaga) pada semen dan sekresi vaginal. Penelitian epidemiologis dari Afrika Sub-Sahara, Eropa, dan Amerika Utara menunjukkan bahwa terdapat sekitar empat kali lebih besar risiko terinfeksi AIDS akibat adanya borok alat kelamin seperti yang disebabkan oleh sifilis dan/atau chancroid. Resiko tersebut juga meningkat secara nyata, walaupun lebih kecil, oleh adanya penyakit menular seksual seperti kencing nanah, infeksi chlamydia, dan trikomoniasis yang menyebabkan pengumpulan lokal limfosit dan makrofaga.[36]

Transmisi HIV bergantung pada tingkat kemudahan penularan dari pengidap dan kerentanan pasangan seksual yang belum terinfeksi. Kemudahan penularan bervariasi pada berbagai tahap penyakit ini dan tidak konstan antarorang. Beban virus plasma yang tidak dapat dideteksi tidak selalu berarti bahwa beban virus kecil pada air mani atau sekresi alat kelamin. Setiap 10 kali penambahan jumlah RNA HIV plasma darah sebanding dengan 81% peningkatan laju transmisi HIV.[36][37] Wanita lebih rentan terhadap infeksi HIV-1 karena perubahan hormon, ekologi serta fisiologi mikroba vaginal, dan kerentanan yang lebih besar terhadap penyakit seksual.[38][39] Orang yang terinfeksi dengan HIV masih dapat terinfeksi jenis virus lain yang lebih mematikan.

 

Kontaminasi patogen melalui darah

Bahaya AIDS sehubungan dengan pemakaian narkoba.

Jalur penularan ini terutama berhubungan dengan pengguna obat suntik, penderita hemofilia, dan resipien transfusi darah dan produk darah. Berbagi dan menggunakan kembali jarum suntik (syringe) yang mengandung darah yang terkontaminasi oleh organisme biologis penyebab penyakit (patogen), tidak hanya merupakan risiko utama atas infeksi HIV, tetapi juga hepatitis B dan hepatitis C. Berbagi penggunaan jarum suntik merupakan penyebab sepertiga dari semua infeksi baru HIV dan 50% infeksi hepatitis C di Amerika Utara, Republik Rakyat Cina, dan Eropa Timur. Resiko terinfeksi dengan HIV dari satu tusukan dengan jarum yang digunakan orang yang terinfeksi HIV diduga sekitar 1 banding 150. Post-exposure prophylaxis dengan obat anti-HIV dapat lebih jauh mengurangi risiko itu.[40] Pekerja fasilitas kesehatan (perawat, pekerja laboratorium, dokter, dan lain-lain) juga dikhawatirkan walaupun lebih jarang. Jalur penularan ini dapat juga terjadi pada orang yang memberi dan menerima rajah dan tindik tubuh. Kewaspadaan universal sering kali tidak dipatuhi baik di Afrika Sub Sahara maupun Asia karena sedikitnya sumber daya dan pelatihan yang tidak mencukupi. WHO memperkirakan 2,5% dari semua infeksi HIV di Afrika Sub Sahara ditransmisikan melalui suntikan pada fasilitas kesehatan yang tidak aman.[41] Oleh sebab itu, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, didukung oleh opini medis umum dalam masalah ini, mendorong negara-negara di dunia menerapkan kewaspadaan universal untuk mencegah penularan HIV melalui fasilitas kesehatan.[42]

Resiko penularan HIV pada penerima transfusi darah sangat kecil di negara maju. Di negara maju, pemilihan donor bertambah baik dan pengamatan HIV dilakukan. Namun demikian, menurut WHO, mayoritas populasi dunia tidak memiliki akses terhadap darah yang aman dan “antara 5% dan 10% infeksi HIV dunia terjadi melalui transfusi darah yang terinfeksi”.[43]

 

Penularan masa perinatal

Transmisi HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melalui rahim (in utero) selama masa perinatal, yaitu minggu-minggu terakhir kehamilan dan saat persalinan. Bila tidak ditangani, tingkat penularan dari ibu ke anak selama kehamilan dan persalinan adalah sebesar 25%. Namun demikian, jika sang ibu memiliki akses terhadap terapi antiretrovirus dan melahirkan dengan cara bedah caesar, tingkat penularannya hanya sebesar 1%.[44] Sejumlah faktor dapat memengaruhi risiko infeksi, terutama beban virus pada ibu saat persalinan (semakin tinggi beban virus, semakin tinggi risikonya). Menyusui meningkatkan risiko penularan sebesar 4%.[45]

 

Diagnosis

Sejak tanggal 5 Juni 1981, banyak definisi yang muncul untuk pengawasan epidemiologi AIDS, seperti definisi Bangui dan definisi World Health Organization tentang AIDS tahun 1994. Namun demikian, kedua sistem tersebut sebenarnya ditujukan untuk pemantauan epidemi dan bukan untuk penentuan tahapan klinis pasien, karena definisi yang digunakan tidak sensitif ataupun spesifik. Di negara-negara berkembang, sistem World Health Organization untuk infeksi HIV digunakan dengan memakai data klinis dan laboratorium; sementara di negara-negara maju digunakan sistem klasifikasi Centers for Disease Control (CDC) Amerika Serikat.

 

Sistem tahapan infeksi WHO

Grafik hubungan antara jumlah HIV dan jumlah CD4+ pada rata-rata infeksi HIV yang tidak ditangani. Keadaan penyakit dapat bervariasi tiap orang.                      jumlah limfosit T CD4+ (sel/mm³)                      jumlah RNA HIV per mL plasma

Pada tahun 1990, World Health Organization (WHO) mengelompokkan berbagai infeksi dan kondisi AIDS dengan memperkenalkan sistem tahapan untuk pasien yang terinfeksi dengan HIV-1.[46] Sistem ini diperbarui pada bulan September tahun 2005. Kebanyakan kondisi ini adalah infeksi oportunistik yang dengan mudah ditangani pada orang sehat.

  • Stadium I: infeksi HIV asimtomatik dan tidak dikategorikan sebagai AIDS
  • Stadium II: termasuk manifestasi membran mukosa kecil dan radang saluran pernafasan atas yang berulang
  • Stadium III: termasuk diare kronik yang tidak dapat dijelaskan selama lebih dari sebulan, infeksi bakteri parah, dan tuberkulosis.
  • Stadium IV: termasuk toksoplasmosis otak, kandidiasis esofagus, trakea, bronkus atau paru-paru, dan sarkoma kaposi. Semua penyakit ini adalah indikator AIDS.

 

Sistem klasifikasi CDC

Terdapat dua definisi tentang AIDS, yang keduanya dikeluarkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Awalnya CDC tidak memiliki nama resmi untuk penyakit ini; sehingga AIDS dirujuk dengan nama penyakit yang berhubungan dengannya, contohnya ialah limfadenopati. Para penemu HIV bahkan pada mulanya menamai AIDS dengan nama virus tersebut.[47][48] CDC mulai menggunakan kata AIDS pada bulan September tahun 1982, dan mendefinisikan penyakit ini.[49] Tahun 1993, CDC memperluas definisi AIDS mereka dengan memasukkan semua orang yang jumlah sel T CD4+ di bawah 200 per µL darah atau 14% dari seluruh limfositnya sebagai pengidap positif HIV.[50] Mayoritas kasus AIDS di negara maju menggunakan kedua definisi tersebut, baik definisi CDC terakhir maupun pra-1993. Diagnosis terhadap AIDS tetap dipertahankan, walaupun jumlah sel T CD4+ meningkat di atas 200 per µL darah setelah perawatan ataupun penyakit-penyakit tanda AIDS yang ada telah sembuh.

 

Tes HIV

Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi virus HIV.[51] Kurang dari 1% penduduk perkotaan di Afrika yang aktif secara seksual telah menjalani tes HIV, dan persentasenya bahkan lebih sedikit lagi di pedesaan. Selain itu, hanya 0,5% wanita mengandung di perkotaan yang mendatangi fasilitas kesehatan umum memperoleh bimbingan tentang AIDS, menjalani pemeriksaan, atau menerima hasil tes mereka. Angka ini bahkan lebih kecil lagi di fasilitas kesehatan umum pedesaan.[51] Dengan demikian, darah dari para pendonor dan produk darah yang digunakan untuk pengobatan dan penelitian medis, harus selalu diperiksa kontaminasi HIV-nya.

Tes HIV umum, termasuk imunoasai enzim HIV dan pengujian Western blot, dilakukan untuk mendeteksi antibodi HIV pada serum, plasma, cairan mulut, darah kering, atau urin pasien. Namun demikian, periode antara infeksi dan berkembangnya antibodi pelawan infeksi yang dapat dideteksi (window period) bagi setiap orang dapat bervariasi. Inilah sebabnya mengapa dibutuhkan waktu 3-6 bulan untuk mengetahui serokonversi dan hasil positif tes. Terdapat pula tes-tes komersial untuk mendeteksi antigen HIV lainnya, HIV-RNA, dan HIV-DNA, yang dapat digunakan untuk mendeteksi infeksi HIV meskipun perkembangan antibodinya belum dapat terdeteksi. Meskipun metode-metode tersebut tidak disetujui secara khusus untuk diagnosis infeksi HIV, tetapi telah digunakan secara rutin di negara-negara maju.

Pencegahan

Perkiraan risiko masuknya HIV per aksi,
menurut rute paparan[52]

Rute paparan

Perkiraan infeksi
per 10.000 paparan
dengan sumber yang terinfeksi

Transfusi darah 9.000[53]
Persalinan 2.500[44]
Penggunaan jarum suntik bersama-sama 67[54]
Hubungan seks anal reseptif* 50[55][56]
Jarum pada kulit 30[57]
Hubungan seksual reseptif* 10[55][56][58]
Hubungan seks anal insertif* 6,5[55][56]
Hubungan seksual insertif* 5[55][56]
Seks oral reseptif* 1[56]§
Seks oral insertif* 0,5[56]§

* tanpa penggunaan kondom
§ sumber merujuk kepada seks oral
yang dilakukan kepada laki-laki

Tiga jalur utama (rute) masuknya virus HIV ke dalam tubuh ialah melalui hubungan seksual, persentuhan (paparan) dengan cairan atau jaringan tubuh yang terinfeksi, serta dari ibu ke janin atau bayi selama periode sekitar kelahiran (periode perinatal). Walaupun HIV dapat ditemukan pada air liur, air mata dan urin orang yang terinfeksi, namun tidak terdapat catatan kasus infeksi dikarenakan cairan-cairan tersebut, dengan demikian risiko infeksinya secara umum dapat diabaikan.[59]

 

Hubungan seksual

Mayoritas infeksi HIV berasal dari hubungan seksual tanpa pelindung antarindividu yang salah satunya terkena HIV. Hubungan heteroseksual adalah modus utama infeksi HIV di dunia.[60] Selama hubungan seksual, hanya kondom pria atau kondom wanita yang dapat mengurangi kemungkinan terinfeksi HIV dan penyakit seksual lainnya serta kemungkinan hamil. Bukti terbaik saat ini menunjukan bahwa penggunaan kondom yang lazim mengurangi risiko penularan HIV sampai kira-kira 80% dalam jangka panjang, walaupun manfaat ini lebih besar jika kondom digunakan dengan benar dalam setiap kesempatan.[61] Kondom laki-laki berbahan lateks, jika digunakan dengan benar tanpa pelumas berbahan dasar minyak, adalah satu-satunya teknologi yang paling efektif saat ini untuk mengurangi transmisi HIV secara seksual dan penyakit menular seksual lainnya. Pihak produsen kondom menganjurkan bahwa pelumas berbahan minyak seperti vaselin, mentega, dan lemak babi tidak digunakan dengan kondom lateks karena bahan-bahan tersebut dapat melarutkan lateks dan membuat kondom berlubang. Jika diperlukan, pihak produsen menyarankan menggunakan pelumas berbahan dasar air. Pelumas berbahan dasar minyak digunakan dengan kondom poliuretan.[62]

Kondom wanita adalah alternatif selain kondom laki-laki dan terbuat dari poliuretan, yang memungkinkannya untuk digunakan dengan pelumas berbahan dasar minyak. Kondom wanita lebih besar daripada kondom laki-laki dan memiliki sebuah ujung terbuka keras berbentuk cincin, dan didesain untuk dimasukkan ke dalam vagina. Kondom wanita memiliki cincin bagian dalam yang membuat kondom tetap di dalam vagina — untuk memasukkan kondom wanita, cincin ini harus ditekan. Kendalanya ialah bahwa kini kondom wanita masih jarang tersedia dan harganya tidak terjangkau untuk sejumlah besar wanita. Penelitian awal menunjukkan bahwa dengan tersedianya kondom wanita, hubungan seksual dengan pelindung secara keseluruhan meningkat relatif terhadap hubungan seksual tanpa pelindung sehingga kondom wanita merupakan strategi pencegahan HIV yang penting.[63]

Penelitian terhadap pasangan yang salah satunya terinfeksi menunjukkan bahwa dengan penggunaan kondom yang konsisten, laju infeksi HIV terhadap pasangan yang belum terinfeksi adalah di bawah 1% per tahun.[64] Strategi pencegahan telah dikenal dengan baik di negara-negara maju. Namun, penelitian atas perilaku dan epidemiologis di Eropa dan Amerika Utara menunjukkan keberadaan kelompok minoritas anak muda yang tetap melakukan kegiatan berisiko tinggi meskipun telah mengetahui tentang HIV/AIDS, sehingga mengabaikan risiko yang mereka hadapi atas infeksi HIV.[65] Namun demikian, transmisi HIV antarpengguna narkoba telah menurun, dan transmisi HIV oleh transfusi darah menjadi cukup langka di negara-negara maju.

Pada bulan Desember tahun 2006, penelitian yang menggunakan uji acak terkendali mengkonfirmasi bahwa sunat laki-laki menurunkan risiko infeksi HIV pada pria heteroseksual Afrika sampai sekitar 50%. Diharapkan pendekatan ini akan digalakkan di banyak negara yang terinfeksi HIV paling parah, walaupun penerapannya akan berhadapan dengan sejumlah isu sehubungan masalah kepraktisan, budaya, dan perilaku masyarakat. Beberapa ahli mengkhawatirkan bahwa persepsi kurangnya kerentanan HIV pada laki-laki bersunat, dapat meningkatkan perilaku seksual berisiko sehingga mengurangi dampak dari usaha pencegahan ini.[66]

Pemerintah Amerika Serikat dan berbagai organisasi kesehatan menganjurkan Pendekatan ABC untuk menurunkan risiko terkena HIV melalui hubungan seksual.[67] Adapun rumusannya dalam bahasa Indonesia:[68]

Anda jauhi seks,
Bersikap saling setia dengan pasangan,
Cegah dengan kondom.

 

Kontaminasi cairan tubuh terinfeksi

Wabah AIDS di Afrika Sub-Sahara tahun 1985-2003.

Pekerja kedokteran yang mengikuti kewaspadaan universal, seperti mengenakan sarung tangan lateks ketika menyuntik dan selalu mencuci tangan, dapat membantu mencegah infeksi HIV.

Semua organisasi pencegahan AIDS menyarankan pengguna narkoba untuk tidak berbagi jarum dan bahan lainnya yang diperlukan untuk mempersiapkan dan mengambil narkoba (termasuk alat suntik, kapas bola, sendok, air pengencer obat, sedotan, dan lain-lain). Orang perlu menggunakan jarum yang baru dan disterilisasi untuk tiap suntikan. Informasi tentang membersihkan jarum menggunakan pemutih disediakan oleh fasilitas kesehatan dan program penukaran jarum. Di sejumlah negara maju, jarum bersih terdapat gratis di sejumlah kota, di penukaran jarum atau tempat penyuntikan yang aman. Banyak negara telah melegalkan kepemilikan jarum dan mengijinkan pembelian perlengkapan penyuntikan dari apotek tanpa perlu resep dokter.

 

Penularan dari ibu ke anak

Penelitian menunjukkan bahwa obat antiretrovirus, bedah caesar, dan pemberian makanan formula mengurangi peluang penularan HIV dari ibu ke anak (mother-to-child transmission, MTCT).[69] Jika pemberian makanan pengganti dapat diterima, dapat dikerjakan dengan mudah, terjangkau, berkelanjutan, dan aman, ibu yang terinfeksi HIV disarankan tidak menyusui anak mereka. Namun demikian, jika hal-hal tersebut tidak dapat terpenuhi, pemberian ASI eksklusif disarankan dilakukan selama bulan-bulan pertama dan selanjutnya dihentikan sesegera mungkin.[5] Pada tahun 2005, sekitar 700.000 anak di bawah umur 15 tahun terkena HIV, terutama melalui penularan ibu ke anak; 630.000 infeksi di antaranya terjadi di Afrika.[70] Dari semua anak yang diduga kini hidup dengan HIV, 2 juta anak (hampir 90%) tinggal di Afrika Sub Sahara.[5]

Penanganan

AbacavirNucleoside analog reverse transcriptase inhibitor (NARTI atau NRTI)

Struktur kimia Abacavir

Sampai saat ini tidak ada vaksin atau obat untuk HIV atau AIDS. Metode satu-satunya yang diketahui untuk pencegahan didasarkan pada penghindaran kontak dengan virus atau, jika gagal, perawatan antiretrovirus secara langsung setelah kontak dengan virus secara signifikan, disebut post-exposure prophylaxis (PEP).[40] PEP memiliki jadwal empat minggu takaran yang menuntut banyak waktu. PEP juga memiliki efek samping yang tidak menyenangkan seperti diare, tidak enak badan, mual, dan lelah.[71]

Terapi antivirus

Penanganan infeksi HIV terkini adalah terapi antiretrovirus yang sangat aktif (highly active antiretroviral therapy, disingkat HAART).[72] Terapi ini telah sangat bermanfaat bagi orang-orang yang terinfeksi HIV sejak tahun 1996, yaitu setelah ditemukannya HAART yang menggunakan protease inhibitor.[6] Pilihan terbaik HAART saat ini, berupa kombinasi dari setidaknya tiga obat (disebut “koktail) yang terdiri dari paling sedikit dua macam (atau “kelas”) bahan antiretrovirus. Kombinasi yang umum digunakan adalah nucleoside analogue reverse transcriptase inhibitor (atau NRTI) dengan protease inhibitor, atau dengan non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI). Karena penyakit HIV lebih cepat perkembangannya pada anak-anak daripada pada orang dewasa, maka rekomendasi perawatannya pun lebih agresif untuk anak-anak daripada untuk orang dewasa.[73] Di negara-negara berkembang yang menyediakan perawatan HAART, seorang dokter akan mempertimbangkan kuantitas beban virus, kecepatan berkurangnya CD4, serta kesiapan mental pasien, saat memilih waktu memulai perawatan awal.[74]

Perawatan HAART memungkinkan stabilnya gejala dan viremia (banyaknya jumlah virus dalam darah) pada pasien, tetapi ia tidak menyembuhkannya dari HIV ataupun menghilangkan gejalanya. HIV-1 dalam tingkat yang tinggi sering resisten terhadap HAART dan gejalanya kembali setelah perawatan dihentikan.[75][76] Lagi pula, dibutuhkan waktu lebih dari seumur hidup seseorang untuk membersihkan infeksi HIV dengan menggunakan HAART.[77] Meskipun demikian, banyak pengidap HIV mengalami perbaikan yang hebat pada kesehatan umum dan kualitas hidup mereka, sehingga terjadi adanya penurunan drastis atas tingkat kesakitan (morbiditas) dan tingkat kematian (mortalitas) karena HIV.[78][79][80] Tanpa perawatan HAART, berubahnya infeksi HIV menjadi AIDS terjadi dengan kecepatan rata-rata (median) antara sembilan sampai sepuluh tahun, dan selanjutnya waktu bertahan setelah terjangkit AIDS hanyalah 9.2 bulan.[25] Penerapan HAART dianggap meningkatkan waktu bertahan pasien selama 4 sampai 12 tahun.[81][82] Bagi beberapa pasien lainnya, yang jumlahnya mungkin lebih dari lima puluh persen, perawatan HAART memberikan hasil jauh dari optimal. Hal ini karena adanya efek samping/dampak pengobatan tidak bisa ditolerir, terapi antiretrovirus sebelumnya yang tidak efektif, dan infeksi HIV tertentu yang resisten obat. Ketidaktaatan dan ketidakteraturan dalam menerapkan terapi antiretrovirus adalah alasan utama mengapa kebanyakan individu gagal memperoleh manfaat dari penerapan HAART.[83] Terdapat bermacam-macam alasan atas sikap tidak taat dan tidak teratur untuk penerapan HAART tersebut. Isyu-isyu psikososial yang utama ialah kurangnya akses atas fasilitas kesehatan, kurangnya dukungan sosial, penyakit kejiwaan, serta penyalahgunaan obat. Perawatan HAART juga kompleks, karena adanya beragam kombinasi jumlah pil, frekuensi dosis, pembatasan makan, dan lain-lain yang harus dijalankan secara rutin .[84][85][86] Berbagai efek samping yang juga menimbulkan keengganan untuk teratur dalam penerapan HAART, antara lain lipodistrofi, dislipidaemia, penolakan insulin, peningkatan risiko sistem kardiovaskular, dan kelainan bawaan pada bayi yang dilahirkan.[87][88]

Obat anti-retrovirus berharga mahal, dan mayoritas individu terinfeksi di dunia tidaklah memiliki akses terhadap pengobatan dan perawatan untuk HIV dan AIDS tersebut.[89]

 

Penanganan eksperimental dan saran

Telah terdapat pendapat bahwa hanya vaksin lah yang sesuai untuk menahan epidemik global (pandemik) karena biaya vaksin lebih murah dari biaya pengobatan lainnya, sehingga negara-negara berkembang mampu mengadakannya dan pasien tidak membutuhkan perawatan harian.[89] Namun setelah lebih dari 20 tahun penelitian, HIV-1 tetap merupakan target yang sulit bagi vaksin.[89]

Beragam penelitian untuk meningkatkan perawatan termasuk usaha mengurangi efek samping obat, penyederhanaan kombinasi obat-obatan untuk memudahkan pemakaian, dan penentuan urutan kombinasi pengobatan terbaik untuk menghadapi adanya resistensi obat. Beberapa penelitian menunjukan bahwa langkah-langkah pencegahan infeksi oportunistik dapat menjadi bermanfaat ketika menangani pasien dengan infeksi HIV atau AIDS. Vaksinasi atas hepatitis A dan B disarankan untuk pasien yang belum terinfeksi virus ini dan dalam berisiko terinfeksi.[90] Pasien yang mengalami penekanan daya tahan tubuh yang besar juga disarankan mendapatkan terapi pencegahan (propilaktik) untuk pneumonia pneumosistis, demikian juga pasien toksoplasmosis dan kriptokokus meningitis yang akan banyak pula mendapatkan manfaat dari terapi propilaktik tersebut.[71]

 Pengobatan alternatif

Berbagai bentuk pengobatan alternatif digunakan untuk menangani gejala atau mengubah arah perkembangan penyakit.[91] Akupunktur telah digunakan untuk mengatasi beberapa gejala, misalnya kelainan syaraf tepi (peripheral neuropathy) seperti kaki kram, kesemutan atau nyeri; namun tidak menyembuhkan infeksi HIV.[92] Tes-tes uji acak klinis terhadap efek obat-obatan jamu menunjukkan bahwa tidak terdapat bukti bahwa tanaman-tanaman obat tersebut memiliki dampak pada perkembangan penyakit ini, tetapi malah kemungkinan memberi beragam efek samping negatif yang serius.[93]

Beberapa data memperlihatkan bahwa suplemen multivitamin dan mineral kemungkinan mengurangi perkembangan penyakit HIV pada orang dewasa, meskipun tidak ada bukti yang menyakinkan bahwa tingkat kematian (mortalitas) akan berkurang pada orang-orang yang memiliki status nutrisi yang baik.[94] Suplemen vitamin A pada anak-anak kemungkinan juga memiliki beberapa manfaat.[94] Pemakaian selenium dengan dosis rutin harian dapat menurunkan beban tekanan virus HIV melalui terjadinya peningkatan pada jumlah CD4. Selenium dapat digunakan sebagai terapi pendamping terhadap berbagai penanganan antivirus yang standar, tetapi tidak dapat digunakan sendiri untuk menurunkan mortalitas dan morbiditas.[95]

Penyelidikan terakhir menunjukkan bahwa terapi pengobatan alteratif memiliki hanya sedikit efek terhadap mortalitas dan morbiditas penyakit ini, namun dapat meningkatkan kualitas hidup individu yang mengidap AIDS. Manfaat-manfaat psikologis dari beragam terapi alternatif tersebut sesungguhnya adalah manfaat paling penting dari pemakaiannya.[96]

Namun oleh penelitian yang mengungkapkan adanya simtoma hipotiroksinemia pada penderita AIDS yang terjangkit virus HIV-1, beberapa pakar menyarankan terapi dengan asupan hormon tiroksin.[97] Hormon tiroksin dikenal dapat meningkatkan laju metabolisme basal sel eukariota[98] dan memperbaiki gradien pH pada mitokondria.[99]

 

Epidemiologi

Meratanya HIV diantara orang dewasa per negara pada akhir tahun 2005.

██ 15–50% ██ 5–15% ██ 1–5% ██ 0.5–1.0% ██ 0.1–0.5% ██ <0.1% ██ tidak ada data

UNAIDS dan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah membunuh lebih dari 25 juta jiwa sejak pertama kali diakui tahun 1981, membuat AIDS sebagai salah satu epidemik paling menghancurkan pada sejarah. Meskipun baru saja, akses perawatan antiretrovirus bertambah baik di banyak region di dunia, epidemik AIDS diklaim bahwa diperkirakan 2,8 juta (antara 2,4 dan 3,3 juta) hidup di tahun 2005 dan lebih dari setengah juta (570.000) merupakan anak-anak.[5] Secara global, antara 33,4 dan 46 juta orang kini hidup dengan HIV.[5] Pada tahun 2005, antara 3,4 dan 6,2 juta orang terinfeksi dan antara 2,4 dan 3,3 juta orang dengan AIDS meninggal dunia, peningkatan dari 2003 dan jumlah terbesar sejak tahun 1981.[5]

Afrika Sub-Sahara tetap merupakan wilayah terburuk yang terinfeksi, dengan perkiraan 21,6 sampai 27,4 juta jiwa kini hidup dengan HIV. Dua juta [1,5&-3,0 juta] dari mereka adalah anak-anak yang usianya lebih rendah dari 15 tahun. Lebih dari 64% dari semua orang yang hidup dengan HIV ada di Afrika Sub Sahara, lebih dari tiga per empat (76%) dari semua wanita hidup dengan HIV. Pada tahun 2005, terdapat 12.0 juta [10.6-13.6 juta] anak yatim/piatu AIDS hidup di Afrika Sub Sahara.[5] Asia Selatan dan Asia Tenggara adalah terburuk kedua yang terinfeksi dengan besar 15%. 500.000 anak-anak mati di region ini karena AIDS. Dua-tiga infeksi HIV/AIDS di Asia muncul di India, dengawn perkiraan 5.7 juta infeksi (perkiraan 3.4 – 9.4 juta) (0.9% dari populasi), melewati perkiraan di Afrika Selatan yang sebesar 5.5 juta (4.9-6.1 juta) (11.9% dari populasi) infeksi, membuat negara ini dengan jumlah terbesar infeksi HIV di dunia.[100] Di 35 negara di Afrika dengan perataan terbesar, harapan hidup normal sebesar 48.3 tahun – 6.5 tahun sedikit daripada akan menjadi tanpa penyakit.[101]

Sejarah

AIDS pertama kali dilaporkan pada tanggal 5 Juni 1981, ketika Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat mencatat adanya Pneumonia pneumosistis (sekarang masih diklasifikasikan sebagai PCP tetapi diketahui disebabkan oleh Pneumocystis jirovecii) pada lima laki-laki homoseksual di Los Angeles.[102]

Dua spesies HIV yang diketahui menginfeksi manusia adalah HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 lebih mematikan dan lebih mudah masuk kedalam tubuh. HIV-1 adalah sumber dari mayoritas infeksi HIV di dunia, sementara HIV-2 sulit dimasukan dan kebanyakan berada di Afrika Barat.[103] Baik HIV-1 dan HIV-2 berasal dari primata. Asal HIV-1 berasal dari simpanse Pan troglodytes troglodytes yang ditemukan di Kamerun selatan.[104] HIV-2 berasal dari Sooty Mangabey (Cercocebus atys), monyet dari Guinea Bissau, Gabon, dan Kamerun.

Banyak ahli berpendapat bahwa HIV masuk ke dalam tubuh manusia akibat kontak dengan primata lainnya, contohnya selama berburu atau pemotongan daging.[105] Teori yang lebih kontroversial yang dikenal dengan nama hipotesis OPV AIDS, menyatakan bahwa epidemik AIDS dimulai pada akhir tahun 1950-an di Kongo Belgia sebagai akibat dari penelitian Hilary Koprowski terhadap vaksin polio.[106][107] Namun demikian, komunitas ilmiah umumnya berpendapat bahwa skenario tersebut tidak didukung oleh bukti-bukti yang ada.[108][109][110]

Sosial dan budaya

Stigma

Ryan White sebagai model poster HIV. Ia dikeluarkan dari sekolah dengan alasan terinfeksi HIV.

Hukuman sosial atau stigma oleh masyarakat di berbagai belahan dunia terhadap pengidap AIDS terdapat dalam berbagai cara, antara lain tindakan-tindakan pengasingan, penolakan, diskriminasi, dan penghindaran atas orang yang diduga terinfeksi HIV; diwajibkannya uji coba HIV tanpa mendapat persetujuan terlebih dahulu atau perlindungan kerahasiaannya; dan penerapan karantina terhadap orang-orang yang terinfeksi HIV.[111] Kekerasan atau ketakutan atas kekerasan, telah mencegah banyak orang untuk melakukan tes HIV, memeriksa bagaimana hasil tes mereka, atau berusaha untuk memperoleh perawatan; sehingga mungkin mengubah suatu sakit kronis yang dapat dikendalikan menjadi “hukuman mati” dan menjadikan meluasnya penyebaran HIV.[112]

Stigma AIDS lebih jauh dapat dibagi menjadi tiga kategori:

  • Stigma instrumental AIDS – yaitu refleksi ketakutan dan keprihatinan atas hal-hal yang berhubungan dengan penyakit mematikan dan menular.[113]
  • Stigma simbolis AIDS – yaitu penggunaan HIV/AIDS untuk mengekspresikan sikap terhadap kelompok sosial atau gaya hidup tertentu yang dianggap berhubungan dengan penyakit tersebut.[113]
  • Stigma kesopanan AIDS – yaitu hukuman sosial atas orang yang berhubungan dengan isu HIV/AIDS atau orang yang positif HIV.[114]

Stigma AIDS sering diekspresikan dalam satu atau lebih stigma, terutama yang berhubungan dengan homoseksualitas, biseksualitas, pelacuran, dan penggunaan narkoba melalui suntikan.

Di banyak negara maju, terdapat penghubungan antara AIDS dengan homoseksualitas atau biseksualitas, yang berkorelasi dengan tingkat prasangka seksual yang lebih tinggi, misalnya sikap-sikap anti homoseksual.[115] Demikian pula terdapat anggapan adanya hubungan antara AIDS dengan hubungan seksual antar laki-laki, termasuk bila hubungan terjadi antara pasangan yang belum terinfeksi.[113]

Dampak ekonomi

Perubahan angka harapan hidup di beberapa negara di Afrika.                      Botswana                     Zimbabwe                     Kenya                     Afrika Selatan                     Uganda

HIV dan AIDS memperlambat pertumbuhan ekonomi dengan menghancurkan jumlah manusia dengan kemampuan produksi (human capital).[5] Tanpa nutrisi yang baik, fasilitas kesehatan dan obat yang ada di negara-negara berkembang, orang di negara-negara tersebut menjadi korban AIDS. Mereka tidak hanya tidak dapat bekerja, tetapi juga akan membutuhkan fasilitas kesehatan yang memadai. Ramalan bahwa hal ini akan menyebabkan runtuhnya ekonomi dan hubungan di daerah. Di daerah yang terinfeksi berat, epidemik telah meninggalkan banyak anak yatim piatu yang dirawat oleh kakek dan neneknya yang telah tua.[116]

Semakin tingginya tingkat kematian (mortalitas) di suatu daerah akan menyebabkan mengecilnya populasi pekerja dan mereka yang berketerampilan. Para pekerja yang lebih sedikit ini akan didominasi anak muda, dengan pengetahuan dan pengalaman kerja yang lebih sedikit sehingga produktivitas akan berkurang. Meningkatnya cuti pekerja untuk melihat anggota keluarga yang sakit atau cuti karena sakit juga akan mengurangi produktivitas. Mortalitas yang meningkat juga akan melemahkan mekanisme produksi dan investasi sumberdaya manusia (human capital) pada masyarakat, yaitu akibat hilangnya pendapatan dan meninggalnya para orang tua. Karena AIDS menyebabkan meninggalnya banyak orang dewasa muda, ia melemahkan populasi pembayar pajak, mengurangi dana publik seperti pendidikan dan fasilitas kesehatan lain yang tidak berhubungan dengan AIDS. Ini memberikan tekanan pada keuangan negara dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Efek melambatnya pertumbuhan jumlah wajib pajak akan semakin terasakan bila terjadi peningkatan pengeluaran untuk penanganan orang sakit, pelatihan (untuk menggantikan pekerja yang sakit), penggantian biaya sakit, serta perawatan yatim piatu korban AIDS. Hal ini terutama mungkin sekali terjadi jika peningkatan tajam mortalitas orang dewasa menyebabkan berpindahnya tanggung-jawab dan penyalahan, dari keluarga kepada pemerintah, untuk menangani para anak yatim piatu tersebut.[116]

Pada tingkat rumah tangga, AIDS menyebabkan hilangnya pendapatan dan meningkatkan pengeluaran kesehatan oleh suatu rumah tangga. Berkurangnya pendapatan menyebabkan berkurangnya pengeluaran, dan terdapat juga efek pengalihan dari pengeluaran pendidikan menuju pengeluaran kesehatan dan penguburan. Penelitian di Pantai Gading menunjukkan bahwa rumah tanggal dengan pasien HIV/AIDS mengeluarkan biaya dua kali lebih banyak untuk perawatan medis daripada untuk pengeluaran rumah tangga lainnya.[117]

 

Penyangkalan atas AIDS

Sekelompok kecil aktivis, diantaranya termasuk beberapa ilmuwan yang tidak meneliti AIDS, mempertanyakan tentang adanya hubungan antara HIV dan AIDS,[118] keberadaan HIV itu sendiri,[119] serta kebenaran atas percobaan dan metode perawatan yang digunakan untuk menanganinya. Klaim mereka telah diperiksa dan secara luas ditolak oleh komunitas ilmiah,[120] walaupun terus saja disebarkan melalui Internet dan sempat memiliki pengaruh politik di Afrika Selatan melalui mantan presiden Thabo Mbeki, yang menyebabkan pemerintahnya disalahkan atas respon yang tidak efektif terhadap epidemik AIDS di negara tersebut.[121][122][123]

 

Referensi

  1. ^ Marx, J. L. (1982). “New disease baffles medical community”. Science 217 (4560): 618–621. PubMed.
  2. ^ Divisions of HIV/AIDS Prevention (2003). “HIV and Its Transmission”. Centers for Disease Control & Prevention. http://www.cdc.gov/HIV/pubs/facts/transmission.htm. Diakses pada 23 Mei 2006.
  3. ^ San Francisco AIDS Foundation (2006-04-14). “How HIV is spread”. http://www.sfaf.org/aids101/transmission.html. Diakses pada 23 Mei 2006.
  4. ^ Gao, F., Bailes, E., Robertson, D. L., Chen, Y., Rodenburg, C. M., Michael, S. F., Cummins, L. B., Arthur, L. O., Peeters, M., Shaw, G. M., Sharp, P. M. and Hahn, B. H. (1999). “Origin of HIV-1 in the Chimpanzee Pan troglodytes troglodytes”. Nature 397 (6718): 436–441. PubMed DOI:10.1038/17130.
  5. ^ a b c d e f g h i UNAIDS (2006). “Overview of the global AIDS epidemic” (PDF). 2006 Report on the global AIDS epidemic. http://data.unaids.org/pub/GlobalReport/2006/2006_GR_CH02_en.pdf. Diakses pada 8 Juni 2006.
  6. ^ a b Palella, F. J. Jr, Delaney, K. M., Moorman, A. C., Loveless, M. O., Fuhrer, J., Satten, G. A., Aschman and D. J., Holmberg, S. D. (1998). “Declining morbidity and mortality among patients with advanced human immunodeficiency virus infection. HIV Outpatient Study Investigators”. N. Engl. J. Med 338 (13): 853–860. PubMed.
  7. ^ Holmes, C. B., Losina, E., Walensky, R. P., Yazdanpanah, Y., Freedberg, K. A. (2003). “Review of human immunodeficiency virus type 1-related opportunistic infections in sub-Saharan Africa”. Clin. Infect. Dis. 36 (5): 656–662. PubMed.
  8. ^ Guss, D. A. (1994). “The acquired immune deficiency syndrome: an overview for the emergency physician, Part 1″. J. Emerg. Med. 12 (3): 375–384. PubMed.
  9. ^ Guss, D. A. (1994). “The acquired immune deficiency syndrome: an overview for the emergency physician, Part 2″. J. Emerg. Med. 12 (4): 491–497. PubMed.
  10. ^ Dahulu pernah dinamakan Pneumocystis carinii pneumonia (PCP), dan sekarang singkatannya masih digunakan tetapi merupakan kependekan dari Pneumocystis pneumonia.
  11. ^ Feldman, C. (2005). “Pneumonia associated with HIV infection”. Curr. Opin. Infect. Dis. 18 (2): 165–170. PubMed.
  12. ^ Decker, C. F. and Lazarus, A. (2000). “Tuberculosis and HIV infection. How to safely treat both disorders concurrently”. Postgrad Med. 108 (2): 57–60, 65–68. PubMed.
  13. ^ Zaidi, S. A. & Cervia, J. S. (2002). “Diagnosis and management of infectious esophagitis associated with human immunodeficiency virus infection”. J. Int. Assoc. Physicians AIDS Care (Chic Ill) 1 (2): 53–62. PubMed.
  14. ^ Guerrant, R. L., Hughes, J. M., Lima, N. L., Crane, J. (1990). “Diarrhea in developed and developing countries: magnitude, special settings, and etiologies”. Rev. Infect. Dis. 12 (Suppl 1): S41–S50. PubMed.
  15. ^ Luft, B. J. and Chua, A. (2000). “Central Nervous System Toxoplasmosis in HIV Pathogenesis, Diagnosis, and Therapy”. Curr. Infect. Dis. Rep. 2 (4): 358–362. PubMed.
  16. ^ Sadler, M. and Nelson, M. R. (1997). “Progressive multifocal leukoencephalopathy in HIV”. Int. J. STD AIDS 8 (6): 351–357. PubMed.
  17. ^ Gray, F., Adle-Biassette, H., Chrétien, F., Lorin de la Grandmaison, G., Force, G., Keohane, C. (2001). “Neuropathology and neurodegeneration in human immunodeficiency virus infection. Pathogenesis of HIV-induced lesions of the brain, correlations with HIV-associated disorders and modifications according to treatments”. Clin. Neuropathol. 20 (4): 146–155. PubMed.
  18. ^ Grant, I., Sacktor, H., and McArthur, J. (2005). “HIV neurocognitive disorders”. di dalam H. E. Gendelman, I. Grant, I. Everall, S. A. Lipton, and S. Swindells. (ed.) (PDF). The Neurology of AIDS (edisi ke-2nd). London, UK: Oxford University Press. hlm. 357–373. ISBN 0-19-852610-5. http://www.hnrc.ucsd.edu/publications_pdf/2005grant1.pdf.
  19. ^ Satishchandra, P., Nalini, A., Gourie-Devi, M., Khanna, N., Santosh, V., Ravi, V., Desai, A., Chandramuki, A., Jayakumar, P. N., and Shankar, S. K. (2000). “Profile of neurologic disorders associated with HIV/AIDS from Bangalore, South India (1989–1996)”. Indian J. Med. Res. 11: 14–23. PubMed.
  20. ^ Wadia, R. S., Pujari, S. N., Kothari, S., Udhar, M., Kulkarni, S., Bhagat, S., and Nanivadekar, A. (2001). “Neurological manifestations of HIV disease”. J. Assoc. Physicians India 49: 343–348. PubMed.
  21. ^ Boshoff, C. and Weiss, R. (2002). “AIDS-related malignancies”. Nat. Rev. Cancer 2 (5): 373–382. PubMed.
  22. ^ Yarchoan, R., Tosatom G. and Littlem R. F. (2005). “Therapy insight: AIDS-related malignancies — the influence of antiviral therapy on pathogenesis and management”. Nat. Clin. Pract. Oncol. 2 (8): 406–415. PubMed.
  23. ^ Bonnet, F., Lewden, C., May, T., Heripret, L., Jougla, E., Bevilacqua, S., Costagliola, D., Salmon, D., Chene, G. and Morlat, P. (2004). “Malignancy-related causes of death in human immunodeficiency virus-infected patients in the era of highly active antiretroviral therapy”. Cancer 101 (2): 317–324. PubMed.
  24. ^ Skoulidis, F., Morgan, M. S., and MacLeod, K. M. (2004). “Penicillium marneffei: a pathogen on our doorstep?”. J. R. Soc. Med. 97 (2): 394–396. PubMed.
  25. ^ a b c Morgan, D., Mahe, C., Mayanja, B., Okongo, J. M., Lubega, R. and Whitworth, J. A. (2002). “HIV-1 infection in rural Africa: is there a difference in median time to AIDS and survival compared with that in industrialized countries?”. AIDS 16 (4): 597–632. PubMed.
  26. ^ Clerici, M., Balotta, C., Meroni, L., Ferrario, E., Riva, C., Trabattoni, D., Ridolfo, A., Villa, M., Shearer, G.M., Moroni, M. and Galli, M. (1996). “Type 1 cytokine production and low prevalence of viral isolation correlate with long-term non progression in HIV infection”. AIDS Res. Hum. Retroviruses. 12 (11): 1053–1061. PubMed.
  27. ^ Morgan, D., Mahe, C., Mayanja, B. and Whitworth, J. A. (2002). “Progression to symptomatic disease in people infected with HIV-1 in rural Uganda: prospective cohort study”. BMJ 324 (7331): 193–196. PubMed.
  28. ^ Gendelman, H. E., Phelps, W., Feigenbaum, L., Ostrove, J. M., Adachi, A., Howley, P. M., Khoury, G., Ginsberg, H. S. and Martin, M. A. (1986). “Transactivation of the human immunodeficiency virus long terminal repeat sequences by DNA viruses”. Proc. Natl. Acad. Sci. U. S. A. 83 (24): 9759–9763. PubMed.
  29. ^ Bentwich, Z., Kalinkovich., A. and Weisman, Z. (1995). “Immune activation is a dominant factor in the pathogenesis of African AIDS.”. Immunol. Today 16 (4): 187–191. PubMed.
  30. ^ Contohnya adalah orang dengan mutasi CCR5-Δ32 (delesi 32 nukleotida pada gen penyandi reseptor chemokine CCR5 yang memengaruhi fungsi sel T) yang kebal terhadap beberapa galur HIV.Tang, J. and Kaslow, R. A. (2003). “The impact of host genetics on HIV infection and disease progression in the era of highly active antiretroviral therapy”. AIDS 17 (Suppl 4): S51–S60. PubMed.
  31. ^ Quiñones-Mateu, M. E., Mas, A., Lain de Lera, T., Soriano, V., Alcami, J., Lederman, M. M. and Domingo, E. (1998). “LTR and tat variability of HIV-1 isolates from patients with divergent rates of disease progression”. Virus Research 57 (1): 11–20. PubMed.
  32. ^ Campbell, G. R., Pasquier, E., Watkins, J., Bourgarel-Rey, V., Peyrot, V., Esquieu, D., Barbier, P., de Mareuil, J., Braguer, D., Kaleebu, P., Yirrell, D. L. and Loret E. P. (2004). “The glutamine-rich region of the HIV-1 Tat protein is involved in T-cell apoptosis”. J. Biol. Chem. 279 (46): 48197–48204. PubMed.
  33. ^ Kaleebu P, French N, Mahe C, Yirrell D, Watera C, Lyagoba F, Nakiyingi J, Rutebemberwa A, Morgan D, Weber J, Gilks C, Whitworth J. (2002). “Effect of human immunodeficiency virus (HIV) type 1 envelope subtypes A and D on disease progression in a large cohort of HIV-1-positive persons in Uganda”. J. Infect. Dis. 185 (9): 1244–1250. PubMed.
  34. ^ Rothenberg, R. B., Scarlett, M., del Rio, C., Reznik, D., O’Daniels, C. (1998). “Oral transmission of HIV”. AIDS 12 (16): 2095–2105. PubMed.
  35. ^ Koenig, Michael et al (2004). “Coerced first intercourse and reproductive health among adolescent women in Rakai, Uganda”. International Family Planning Perspectives 30 (4:156): 156.
  36. ^ a b Laga, M., Nzila, N., Goeman, J. (1991). “The interrelationship of sexually transmitted diseases and HIV infection: implications for the control of both epidemics in Africa”. AIDS 5 (Suppl 1): S55–S63. PubMed.
  37. ^ Tovanabutra, S., Robison, V., Wongtrakul, J., Sennum, S., Suriyanon, V., Kingkeow, D., Kawichai, S., Tanan, P., Duerr, A., Nelson, K. E. (2002). “Male viral load and heterosexual transmission of HIV-1 subtype E in northern Thailand”. J. Acquir. Immune. Defic. Syndr. 29 (3): 275–283. PubMed.
  38. ^ Sagar, M., Lavreys, L., Baeten, J. M., Richardson, B. A., Mandaliya, K., Ndinya-Achola, J. O., Kreiss, J. K., Overbaugh, J. (2004). “Identification of modifiable factors that affect the genetic diversity of the transmitted HIV-1 population”. AIDS 18 (4): 615–619. PubMed.
  39. ^ Lavreys, L., Baeten, J. M., Martin, H. L. Jr., Overbaugh, J., Mandaliya, K., Ndinya-Achola, J., and Kreiss, J. K. (2004). “Hormonal contraception and risk of HIV-1 acquisition: results of a 10-year prospective study”. AIDS 18 (4): 695–697. PubMed.
  40. ^ a b Fan, H. (2005). Fan, H., Conner, R. F. and Villarreal, L. P. eds. ed. AIDS: science and society (edisi ke-4th). Boston, MA: Jones and Bartlett Publishers. ISBN 0-7637-0086-X.
  41. ^ WHO (2003-03-17). “WHO, UNAIDS Reaffirm HIV as a Sexually Transmitted Disease”. http://64.233.179.104/search?q=cache:adH68_6JGG8J:tokyo.usembassy.gov//e/p/tp-20030317a3.html+site:tokyo.usembassy.gov+HIV+healthcare+injection&hl=en&gl=us&ct=clnk&cd=1. Diakses pada 17 Januari 2006.
  42. ^ Physicians for Human Rights (2003-03-13). “HIV Transmission in the Medical Setting: A White Paper by Physicians for Human Rights”. Partners in Health. http://www.phrusa.org/campaigns/aids/who_031303.html. Diakses pada 1 Maret 2006.
  43. ^ WHO (2001). “Blood safety….for too few”. http://www.who.int/inf-pr-2000/en/pr2000-25.html. Diakses pada 17 Januari 2006.
  44. ^ a b Coovadia, H. (2004). “Antiretroviral agents—how best to protect infants from HIV and save their mothers from AIDS”. N. Engl. J. Med. 351 (3): 289–292. PubMed.
  45. ^ Coovadia HM, Bland RM (2007). “Preserving breastfeeding practice through the HIV pandemic”. Trop. Med. Int. Health. 12 (9): 1116–1133. PMID 17714431.
  46. ^ World Health Organization (1990). “Interim proposal for a WHO staging system for HIV infection and disease”. WHO Wkly Epidem. Rec. 65 (29): 221–228. PubMed.
  47. ^ Centers for Disease Control (CDC) (1982). “Persistent, generalized lymphadenopathy among homosexual males.”. MMWR Morb Mortal Wkly Rep. 31 (19): 249–251. PubMed.
  48. ^ Barré-Sinoussi, F., Chermann, J. C., Rey, F., Nugeyre, M. T., Chamaret, S., Gruest, J., Dauguet, C., Axler-Blin, C., Vezinet-Brun, F., Rouzioux, C., Rozenbaum, W. and Montagnier, L. (1983). “Isolation of a T-lymphotropic retrovirus from a patient at risk for acquired immune deficiency syndrome (AIDS)”. Science 220 (4599): 868–871. PubMed.
  49. ^ Centers for Disease Control (CDC) (1982). “Update on acquired immune deficiency syndrome (AIDS)—United States.”. MMWR Morb Mortal Wkly Rep. 31 (37): 507–508; 513–514. PubMed.
  50. ^ CDC (1992). “1993 Revised Classification System for HIV Infection and Expanded Surveillance Case Definition for AIDS Among Adolescents and Adults”. CDC. http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/00018871.htm. Diakses pada 9 Februari 2006.
  51. ^ a b Kumaranayake, L. and Watts, C. (2001). “Resource allocation and priority setting of HIV/AIDS interventions: addressing the generalized epidemic in sub-Saharan Africa”. J. Int. Dev. 13 (4): 451–466. doi:10.1002/jid.798.
  52. ^ Smith, D. K., Grohskopf, L. A., Black, R. J., Auerbach, J. D., Veronese, F., Struble, K. A., Cheever, L., Johnson, M., Paxton, L. A., Onorato, I. A., Greenberg, A. E. (2005). “Antiretroviral Postexposure Prophylaxis After Sexual, Injection-Drug Use, or Other Nonoccupational Exposure to HIV in the United States”. MMWR 54 (RR02): 1–20. http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/rr5402a1.htm#tab1.
  53. ^ Donegan, E., Stuart, M., Niland, J. C., Sacks, H. S., Azen, S. P., Dietrich, S. L., Faucett, C., Fletcher, M. A., Kleinman, S. H., Operskalski, E. A., et al. (1990). “Infection with human immunodeficiency virus type 1 (HIV-1) among recipients of antibody-positive blood donations”. Ann. Intern. Med. 113 (10): 733–739. PubMed.
  54. ^ Kaplan, E. H. and Heimer, R. (1995). “HIV incidence among New Haven needle exchange participants: updated estimates from syringe tracking and testing data”. J. Acquir. Immune Defic. Syndr. Hum. Retrovirol. 10 (2): 175–176. PubMed.
  55. ^ a b c d European Study Group on Heterosexual Transmission of HIV (1992). “Comparison of female to male and male to female transmission of HIV in 563 stable couples”. BMJ. 304 (6830): 809–813. PubMed.
  56. ^ a b c d e f Varghese, B., Maher, J. E., Peterman, T. A., Branson, B. M. and Steketee, R. W. (2002). “Reducing the risk of sexual HIV transmission: quantifying the per-act risk for HIV on the basis of choice of partner, sex act, and condom use”. Sex. Transm. Dis. 29 (1): 38–43. PubMed.
  57. ^ Bell, D. M. (1997). “Occupational risk of human immunodeficiency virus infection in healthcare workers: an overview.”. Am. J. Med. 102 (5B): 9–15. PubMed.
  58. ^ Leynaert, B., Downs, A. M. and de Vincenzi, I. (1998). “Heterosexual transmission of human immunodeficiency virus: variability of infectivity throughout the course of infection. European Study Group on Heterosexual Transmission of HIV”. Am. J. Epidemiol. 148 (1): 88–96. PubMed.
  59. ^ “Facts about AIDS & HIV”. http://www.avert.org/aids.htm. Diakses pada 14 Desember 2006.
  60. ^ Johnson AM & Laga M, Heterosexual transmission of HIV, AIDS, 1988, 2(suppl. 1):S49-S56; N’Galy B & Ryder RW, Epidemiology of HIV infection in Africa, Journal of Acquired Immune Deficiency Syndromes, 1988, 1(6):551-558; dan Deschamps M et al., Heterosexual transmission of HIV in Haiti, Annals of Internal Medicine, 1996, 125(4):324-330.
  61. ^ Cayley, W. E. Jr. (2004). “Effectiveness of condoms in reducing heterosexual transmission of HIV”. Am. Fam. Physician 70 (7): 1268–1269. PubMed.
  62. ^ Durex. “Module 5/Guidelines for Educators” (Microsoft Word). http://www.durex.com/cm/assets/SexEdDownloads/Module_5_condoms.doc. Diakses pada 17 April 2006.
  63. ^ PATH (2006). “The female condom: significant potential for STI and pregnancy prevention”. Outlook 22 (2).
  64. ^ WHO (August, 2003). “Condom Facts and Figures”. http://www.wpro.who.int/media_centre/fact_sheets/fs_200308_Condoms.htm. Diakses pada 17 Januari 2006.
  65. ^ Dias, S. F., Matos, M. G. and Goncalves, A. C. (2005). “Preventing HIV transmission in adolescents: an analysis of the Portuguese data from the Health Behaviour School-aged Children study and focus groups”. Eur. J. Public Health 15 (3): 300–304. PubMed.
  66. ^ NIAID (2006-12-13). “Adult Male Circumcision Significantly Reduces Risk of Acquiring HIV: Trials Kenya and Uganda Stopped Early”. http://www3.niaid.nih.gov/news/newsreleases/2006/AMC12_06.htm. Diakses pada 15 Desember 2006.
  67. ^ Pendekatan ABC oleh Pemerintah Amerika Serikat:

Abstinence or delay of sexual activity, especially for youth (berpantang atau menunda kegiatan seksual, terutama bagi remaja),

Being faithful, especially for those in committed relationships (setia pada pasangan, terutama bagi orang yang sudah memiliki pasangan),

Condom use, for those who engage in risky behavior (penggunaan kondom, bagi orang yang melakukan perilaku berisiko).

  1. ^ “Yayasan Bhakti Gelar Orasi Panggung”, Bali Post, 2 Desember 2003, http://www.balipost.com/balipostcetak/2003/12/2/n2.htm
  2. ^ Sperling, R. S., Shapirom D. E., Coombsm R. W., Todd, J. A., Herman, S. A., McSherry, G. D., O’Sullivan, M. J., Van Dyke, R. B., Jimenez, E., Rouzioux, C., Flynn, P. M., Sullivan, J. L. (1996). “Maternal viral load, zidovudine treatment, and the risk of transmission of human immunodeficiency virus type 1 from mother to infant”. N. Engl. J. Med. 335 (22): 1621–1629. PubMed.
  3. ^ Berry, S. (2006-06-08). “Children, HIV and AIDS”. avert.org. http://www.avert.org/children.htm. Diakses pada 15 Juni 2006.
  4. ^ a b Department of Health and Human Services (February, 2006). “A Pocket Guide to Adult HIV/AIDS Treatment February 2006 edition”. http://hab.hrsa.gov/tools/HIVpocketguide/PktGPEP.htm. Diakses pada 1 September 2006.
  5. ^ Department of Health and Human Services (February, 2006). “A Pocket Guide to Adult HIV/AIDS Treatment February 2006 edition”. http://hab.hrsa.gov/tools/HIVpocketguide/PktGARTtables.htm. Diakses pada 1 September 2006.
  6. ^ Department of Health and Human Services Working Group on Antiretroviral Therapy and Medical Management of HIV-Infected Children (3 November, 2005). “Guidelines for the Use of Antiretroviral Agents in Pediatric HIV Infection” (PDF). http://www.aidsinfo.nih.gov/ContentFiles/PediatricGuidelines_PDA.pdf. Diakses pada 17 Januari 2006.
  7. ^ Department of Health and Human Services Panel on Clinical Practices for Treatment of HIV Infection (October 6, 2005). “Guidelines for the Use of Antiretroviral Agents in HIV-1-Infected Adults and Adolescents” (PDF). http://aidsinfo.nih.gov/ContentFiles/AdultandAdolescentGL.pdf. Diakses pada 17 Januari 2006.
  8. ^ Martinez-Picado, J., DePasquale, M. P., Kartsonis, N., Hanna, G. J., Wong, J., Finzi, D., Rosenberg, E., Gunthard, H. F., Sutton, L., Savara, A., Petropoulos, C. J., Hellmann, N., Walker, B. D., Richman, D. D., Siliciano, R. and D’Aquila, R. T. (2000). “Antiretroviral resistance during successful therapy of human immunodeficiency virus type 1 infection”. Proc. Natl. Acad. Sci. U. S. A. 97 (20): 10948–10953. PubMed.
  9. ^ Dybul, M., Fauci, A. S., Bartlett, J. G., Kaplan, J. E., Pau, A. K.; Panel on Clinical Practices for Treatment of HIV. (2002). “Guidelines for using antiretroviral agents among HIV-infected adults and adolescents”. Ann. Intern. Med. 137 (5 Pt 2): 381–433. PubMed.
  10. ^ Blankson, J. N., Persaud, D., Siliciano, R. F. (2002). “The challenge of viral reservoirs in HIV-1 infection”. Annu. Rev. Med. 53: 557–593. PubMed.
  11. ^ Palella, F. J., Delaney, K. M., Moorman, A. C., Loveless, M. O., Fuhrer, J., Satten, G. A., Aschman, D. J. and Holmberg, S. D. (1998). “Declining morbidity and mortality among patients with advanced human immunodeficiency virus infection”. N. Engl. J. Med. 338 (13): 853–860. PubMed.
  12. ^ Wood, E., Hogg, R. S., Yip, B., Harrigan, P. R., O’Shaughnessy, M. V. and Montaner, J. S. (2003). “Is there a baseline CD4 cell count that precludes a survival response to modern antiretroviral therapy?”. AIDS 17 (5): 711–720. PubMed.
  13. ^ Chene, G., Sterne, J. A., May, M., Costagliola, D., Ledergerber, B., Phillips, A. N., Dabis, F., Lundgren, J., D’Arminio Monforte, A., de Wolf, F., Hogg, R., Reiss, P., Justice, A., Leport, C., Staszewski, S., Gill, J., Fatkenheuer, G., Egger, M. E. and the Antiretroviral Therapy Cohort Collaboration. (2003). “Prognostic importance of initial response in HIV-1 infected patients starting potent antiretroviral therapy: analysis of prospective studies”. Lancet 362 (9385): 679–686. PubMed.
  14. ^ King, J. T., Justice, A. C., Roberts, M. S., Chang, C. H., Fusco, J. S. and the CHORUS Program Team. (2003). “Long-Term HIV/AIDS Survival Estimation in the Highly Active Antiretroviral Therapy Era”. Medical Decision Making 23 (1): 9–20. PubMed.
  15. ^ Tassie, J.M., Grabar, S., Lancar, R., Deloumeaux, J., Bentata, M., Costagliola, D. and the Clinical Epidemiology Group from the French Hospital Database on HIV. (2002). “Time to AIDS from 1992 to 1999 in HIV-1-infected subjects with known date of infection”. Journal of acquired immune deficiency syndromes 30 (1): 81–7. PubMed.
  16. ^ Becker SL, Dezii CM, Burtcel B, Kawabata H, Hodder S. (2002). “Young HIV-infected adults are at greater risk for medication nonadherence”. MedGenMed. 4 (3): 21. PubMed.
  17. ^ Nieuwkerk, P., Sprangers, M., Burger, D., Hoetelmans, R. M., Hugen, P. W., Danner, S. A., van Der Ende, M. E., Schneider, M. M., Schrey, G., Meenhorst, P. L., Sprenger, H. G., Kauffmann, R. H., Jambroes, M., Chesney, M. A., de Wolf, F., Lange, J. M. and the ATHENA Project. (2001). “Limited Patient Adherence to Highly Active Antiretroviral Therapy for HIV-1 Infection in an Observational Cohort Study”. Arch. Intern. Med. 161 (16): 1962–1968. PubMed.
  18. ^ Kleeberger, C., Phair, J., Strathdee, S., Detels, R., Kingsley, L. and Jacobson, L. P. (2001). “Determinants of Heterogeneous Adherence to HIV-Antiretroviral Therapies in the Multicenter AIDS Cohort Study”. J. Acquir. Immune Defic. Syndr. 26 (1): 82–92. PubMed.
  19. ^ Heath, K. V., Singer, J., O’Shaughnessy, M. V., Montaner, J. S. and Hogg, R. S. (2002). “Intentional Nonadherence Due to Adverse Symptoms Associated With Antiretroviral Therapy”. J. Acquir. Immune Defic. Syndr. 31 (2): 211–217. PubMed.
  20. ^ Montessori, V., Press, N., Harris, M., Akagi, L., Montaner, J. S. (2004). “Adverse effects of antiretroviral therapy for HIV infection.”. CMAJ 170 (2): 229–238. PubMed.
  21. ^ Saitoh, A., Hull, A. D., Franklin, P. and Spector, S. A. (2005). “Myelomeningocele in an infant with intrauterine exposure to efavirenz”. J. Perinatol. 25 (8): 555–556. PubMed.
  22. ^ a b c Ferrantelli F, Cafaro A, Ensoli B. (2004). “Nonstructural HIV proteins as targets for prophylactic or therapeutic vaccines”. Curr Opin Biotechnol. 15 (6): 543–556. PubMed.
  23. ^ Laurence J. (2006). “Hepatitis A and B virus immunization in HIV-infected persons”. AIDS Reader 16 (1): 15–17. PubMed.
  24. ^ Saltmarsh, S. (2005). “Voodoo or valid? Alternative therapies benefit those living with HIV”. Positively Aware 3 (16): 46. PubMed. http://www.tpan.com/publications/pa/may_jun_05/voodoo.shtml.
  25. ^ Nicholas PK, Kemppainen JK, Canaval GE, et al (February 2007). “Symptom management and self-care for peripheral neuropathy in HIV/AIDS”. AIDS Care 19 (2): 179–89. doi:10.1080/09540120600971083. PMID 17364396. http://www.informaworld.com/openurl?genre=article&doi=10.1080/09540120600971083&magic=pubmed. Diakses pada 28 April 2008.
  26. ^ Liu JP, Manheimer E, Yang M (2005). “Herbal medicines for treating HIV infection and AIDS”. Cochrane Database Syst Rev (3): CD003937. doi:10.1002/14651858.CD003937.pub2. PMID 16034917.
  27. ^ a b Irlam JH, Visser ME, Rollins N, Siegfried N (2005). “Micronutrient supplementation in children and adults with HIV infection”. Cochrane Database Syst Rev (4): CD003650. doi:10.1002/14651858.CD003650.pub2. PMID 16235333.
  28. ^ Hurwitz BE, Klaus JR, Llabre MM, et al (January 2007). “Suppression of human immunodeficiency virus type 1 viral load with selenium supplementation: a randomized controlled trial”. Arch. Intern. Med. 167 (2): 148–54. doi:10.1001/archinte.167.2.148. PMID 17242315.
  29. ^ Power R, Gore-Felton C, Vosvick M, Israelski DM, Spiegel D (June 2002). “HIV: effectiveness of complementary and alternative medicine”. Prim. Care 29 (2): 361–78. PMID 12391716.
  30. ^ (Inggris)“Hypothyroxinemia in acquired immune deficiency syndrome (AIDS).”. Department of Radiation Medicine, University of Nigeria Teaching Hospital; Ezeala CC, Chukwurah E.. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/7813003. Diakses pada 18 Juli 2010.
  31. ^ (Inggris)“Hyperthyroidism stimulates mitochondrial proton leak and ATP turnover in rat hepatocytes but does not change the overall kinetics of substrate oxidation reactions”. Department of Biochemistry, University of Cambridge; Harper ME, Brand MD.. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/7834578. Diakses pada 18 Juli 2010.
  32. ^ (Inggris)“Chemiosmotic Gradient: Generation and Maintenance”. Department of Biochemistry & Cell Biology; Rice University. http://www.ruf.rice.edu/~bioslabs/studies/mitochondria/mitogradient.html. Diakses pada 18 Juli 2010.

100.^ UNAIDS (2006). “Annex 2: HIV/AIDS estimates and data, 2005″ (PDF). 2006 Report on the global AIDS epidemic. http://data.unaids.org/pub/GlobalReport/2006/2006_GR_ANN2_en.pdf. Diakses pada 8 Juni 2006.

101.^ UNAIDS (2001). “Special Session of the General Assembly on HIV/AIDS Round table 3 Socio-economic impact of the epidemic and the strengthening of national capacities to combat HIV/AIDS” (PDF). http://data.unaids.org/Publications/External-Documents/GAS26-rt3_en.pdf. Diakses pada 15 Juni 2006.

102.^ CDC (1981). “Pneumocystis Pneumonia — Los Angeles”. CDC. http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/june_5.htm. Diakses pada 17 Januari 2006.

103.^ Reeves, J. D. and Doms, R. W (2002). “Human Immunodeficiency Virus Type 2″. J. Gen. Virol. 83 (Pt 6): 1253–1265. PubMed.

104.^ Keele, B. F., van Heuverswyn, F., Li, Y. Y., Bailes, E., Takehisa, J., Santiago, M. L., Bibollet-Ruche, F., Chen, Y., Wain, L. V., Liegois, F., Loul, S., Mpoudi Ngole, E., Bienvenue, Y., Delaporte, E., Brookfield, J. F. Y., Sharp, P. M., Shaw, G. M., Peeters, M., Hahn, B. H. (2006). “Chimpanzee Reservoirs of Pandemic and Nonpandemic HIV-1″. Science Online 2006-05-25. PubMeddoi:10.1126/science.1126531. http://www.sciencemag.org/cgi/content/abstract/1126531.

105.^ Cohen, J. (2000). “Vaccine Theory of AIDS Origins Disputed at Royal Society”. Science 289 (5486): 1850–1851. PubMed.

106.^ Curtis, T. (1992). “The origin of AIDS”. Rolling Stone (626): 54–59, 61, 106, 108. http://www.uow.edu.au/arts/sts/bmartin/dissent/documents/AIDS/Curtis92.html.

107.^ Hooper, E. (1999). The River : A Journey to the Source of HIV and AIDS (edisi ke-1st). Boston, MA: Little Brown & Co. hlm. 1–1070. ISBN 0-316-37261-7.

108.^ Worobey M, Santiago ML, Keele BF, Ndjango JB, Joy JB, Labama BL, Dhed’A BD, Rambaut A, Sharp PM, Shaw GM, Hahn BH (2004). “Origin of AIDS: contaminated polio vaccine theory refuted”. Nature 428 (6985): 820. PubMed.

109.^ Berry N, Jenkins A, Martin J, Davis C, Wood D, Schild G, Bottiger M, Holmes H, Minor P, Almond N (2005). “Mitochondrial DNA and retroviral RNA analyses of archival oral polio vaccine (OPV CHAT) materials: evidence of macaque nuclear sequences confirms substrate identity”. Vaccine 23: 1639–1648. PubMed.

110.^ Centers for Disease Control and Prevention (2004-03-23). “Oral Polio Vaccine and HIV / AIDS: Questions and Answers”. http://www.cdc.gov/nip/vacsafe/concerns/aids/poliovac-hiv-aids-qa.htm. Diakses pada 20 November 2006.

111.^ UNAIDS (2006). “The impact of AIDS on people and societies” (PDF). 2006 Report on the global AIDS epidemic. http://data.unaids.org/pub/GlobalReport/2006/2006_GR_CH04_en.pdf. Diakses pada 14 Juni 2006.

112.^ Ogden, J. and Nyblade, L. (2005). “Common at its core: HIV-related stigma across contexts” (PDF). International Center for Research on Women. http://www.icrw.org/docs/2005_report_stigma_synthesis.pdf. Diakses pada 15 Februari 2007.

113.^ a b c Herek, G. M. and Capitanio, J. P. (1999). “AIDS Stigma and sexual prejudice” (PDF). Am. Behav, Scientist. http://psychology.ucdavis.edu/rainbow/html/abs99_sp.pdf. Diakses pada 27 Maret 2006.

114.^ Snyder M, Omoto AM, Crain AL. (1999). “Punished for their good deeds: stigmatization for AIDS volunteers”. American Behavioral Scientist 42 (7): 1175–1192.

115.^ Herek GM, Capitanio JP, Widaman KF. (2002). “HIV-related stigma and knowledge in the United States: prevalence and trends, 1991–1999″ (PDF). Am. J. Public Health. 92 (3): 371–377. http://psychology.ucdavis.edu/rainbow/html/ajph2002.pdf.

116.^ a b Greener, R. (2002). “AIDS and macroeconomic impact”. di dalam S, Forsyth (ed.) (PDF). State of The Art: AIDS and Economics. IAEN. hlm. 49–55.

117.^ Over, M. (1992). “The macroeconomic impact of AIDS in Sub-Saharan Africa, Population and Human Resources Department”. The World Bank.

118.^ Duesberg, P. H. (1988). “HIV is not the cause of AIDS”. Science 241 (4865): 514, 517. PubMed.

119.^ Papadopulos-Eleopulos, E., Turner, V. F., Papadimitriou, J., Page, B., Causer, D., Alfonso, H., Mhlongo, S., Miller, T., Maniotis, A. and Fiala, C. (2004). “A critique of the Montagnier evidence for the HIV/AIDS hypothesis”. Med Hypotheses 63 (4): 597–601. PubMed.

120.^ Untuk bukti konsensis ilmu pengetahuan bahwa HIV menyebabkan AIDS, lihat:

  • “The Durban Declaration”. Nature 406 (6791): 15-6. 1 Desember 2000. doi:10.1038/35017662. PMID 10894520.  – full text here.
  • Cohen, J. (1994). “The Controversy over HIV and AIDS”. Science 266 (5191): 1642–1649. http://www.sciencemag.org/feature/data/cohen/266-5191-1642a.pdf.
  • Various. “Focus on the HIV-AIDS Connection: Resource links”. National Institute of Allergy and Infectious Diseases. http://www3.niaid.nih.gov/news/focuson/hiv/resources/. Diakses pada 7 September 2006.
  • O’Brien SJ, Goedert JJ (1996). “HIV causes AIDS: Koch’s postulates fulfilled”. Curr. Opin. Immunol. 8 (5): 613-8. PMID 8902385.
  • Galéa P, Chermann JC (1998). “HIV as the cause of AIDS and associated diseases”. Genetica 104 (2): 133-42. PMID 10220906.

121.^ Watson J (2006). “Scientists, activists sue South Africa’s AIDS ‘denialists'”. Nat. Med. 12 (1): 6. doi:10.1038/nm0106-6a. PMID 16397537.

122.^ Baleta A (2003). “S Africa’s AIDS activists accuse government of murder”. Lancet 361 (9363): 1105. PMID 12672319.

123.^ Cohen J (2000). “South Africa’s new enemy”. Science 288 (5474): 2168-70. PMID 10896606.

Nov
25

Hari Guru adalah hari untuk menunjukkan penghargaan terhadap guru, dan diperingati pada tanggal yang berbeda-beda bergantung pada negaranya. Di beberapa negara, hari guru merupakan hari libur sekolah.

 

Hari guru di berbagai negara

Amerika

  • Amerika Serikat: minggu pertama di bulan Mei (Minggu Apresiasi Guru).
  • Argentina: 11 September

Hari peringatan wafatnya Domingo Faustino Sarmiento, seorang pendidik dan politisi Argentina.

  • Brazil: 15 Oktober (sejak 1963)

Pertama kali dirayakan tahun 1947 di São Paulo oleh sejumlah guru dari sebuah sekolah kecil. Tanggal 15 Oktober disepakati sebagai hari guru karena pada tanggal tersebut, Dom Pedro I menyetujui dekrit penataan kembali sekolah dasar di Brazil.

  • Chili: 16 Oktober

Pada tahun 1974, tanggal 10 Desember disepakati sebagai hari guru karena penyair Chili Gabriela Mistral menerima Penghargaan Nobel pada 10 Desember 1945. Sejak tahun 1977, hari guru diubah menjadi tanggal 16 Oktober untuk memperingati berdirinya Institut Guru Chili (Colegio de Profesores de Chile).[1]

  • Meksiko: 15 Mei (sejak 1918)
  • Peru: 6 Juli (sejak 1953)

Pejuang kemerdekaan José de San Martín mendirikan sekolah umum untuk laki-laki setelah José Bernardo de Tagle meloloskan resolusi pendidikan pada 6 Juli 1822.[2]

 

Asia

  • Filipina: 5 Oktober

Peringatan hari guru (bahasa Tagalog: Araw ng mga Guro) ditetapkan tanggal 5 Oktober berdasarkan Perintah Presiden No. 479.[3] Walaupun demikian, hari guru biasanya dirayakan di sekolah-sekolah dasar dan sekolah menengah sekitar bulan September dan Oktober.

  • Hong Kong: 10 September (hingga 1997: 28 September)
  • India: 5 September

Hari ulang tahun Presiden India Dr. Sarvapalli Radhakrishnan yang juga seorang guru ditetapkan sebagai hari guru. Di sekolah-sekolah diadakan perayaan, dan murid yang paling senior memainkan peran sebagai guru.

  • Indonesia: 25 November

Hari Guru Nasional diperingati bersama hari ulang tahun PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Hari Guru Nasional bukan hari libur resmi, dan dirayakan dalam bentuk upacara peringatan di sekolah-sekolah dan pemberian tanda jasa bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah.[4]

  • Iran: 2 Mei

Peringatan wafatnya Morteza Motahari sebagai martir pada 2 Mei [[1979].

  • Korea Selatan: 15 Mei

Hari guru dirayakan sejak tahun 1963 di Seoul, dan sejak tahun 1964 di kota Chuncheon. Perayaan ini dimulai oleh sekelompok anggota palang merah remaja yang mengunjungi guru-guru yang sedang sakit di rumah sakit. Perayaan hari guru secara nasional tidak dilangsungkan dari tahun 1973 hingga 1982, dan baru dilanjutkan kembali sejak 1983. Guru menerima hadiah bunga anyelir.

  • Malaysia: 16 Mei

Tanggal 16 Mei ditetapkan sebagai Hari Guru di Malaysia, karena pada 16 Mei 1956, Majelis Undang-Undang Persekutuan Tanah Melayu menerima rancangan kurikulum dari Laporan Jawatankuasa Pelajaran.

  • Pakistan: 5 Oktober
  • RRC: 10 September

Murid-murid biasanya memberikan hadiah balas jasa kepada guru, seperti kartu ucapan dan bunga.

  • Singapura: 1 September (hari libur sekolah)

Perayaan dilakukan sehari sebelumnya, dan murid-murid dipulangkan lebih awal.

  • Taiwan: 28 September (ulang tahun Konfusius)
  • Thailand: 16 Januari (sejak 1957)
  • Turki: 24 November (sejak 1981)
  • Vietnam:20 November

Hari libur sekolah untuk mengunjungi guru dan mantan guru di rumah masing-masing.

 

Eropa

  • Albania: 7 Maret
  • Ceko: 28 Maret
  • Rusia: 5 Oktober

Sejak tahun 1994, hari guru dirayakan tanggal 5 Oktober bertepatan dengan Hari Guru Sedunia. Dari tahun 1965 hingga 1993, hari guru dirayakan pada minggu pertama di bulan Oktober.

  • Polandia: 14 Oktober

 

Australia

Hari Jumat terakhir bulan Oktober dirayakan sebagai Hari Guru Sedunia di Australia.

 

Referensi

  1. ^ http://www.educar.cl/htm2006/quees7.htm Día del profesor.
  2. ^ Portal Educativo del Perú – Día del Maestro (bahasa Spanyol) Lihat bagian: Una fecha con Historia
  3. ^ http://www.ops.gov.ph/records/proc_no479.htm: OPS: National Teacher’s Day
  4. ^ http://www.unotil.org/legal/IndonesianLaw/keppres/kp199478.htm
  5. ^http://fruitheart.blogspot.com/2011/05/happy-teachers-day-16th-may-2011.html
Nov
25

Guru berasal (dari Sanskerta: गुरू yang berarti guru, tetapi arti secara harfiahnya adalah “berat”) adalah seorang pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.

Arti umum

Guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru-guru seperti ini harus mempunyai semacam kualifikasi formal. Dalam definisi yang lebih luas, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang guru. Beberapa istilah yang juga menggambarkan peran guru, antara lain:

Arti khusus

Dalam agama Hindu, guru merupakan simbol bagi suatu tempat suci yang berisi ilmu (vidya) dan juga pembagi ilmu. Seorang guru adalah pemandu spiritual/kejiwaan murid-muridnya.

Dalam agama Buddha, guru adalah orang yang memandu muridnya dalam jalan menuju kebenaran. Murid seorang guru memandang gurunya sebagai jelmaan Buddha atau Bodhisattva.

Dalam agama Sikh, guru mempunyai makna yang mirip dengan agama Hindu dan Buddha, namun posisinya lebih penting lagi, karena salah satu inti ajaran agama Sikh adalah kepercayaan terhadap ajaran Sepuluh Guru Sikh. Hanya ada sepuluh Guru dalam agama Sikh, dan Guru pertama, Guru Nanak Dev, adalah pendiri agama ini.

Orang India, China, Mesir, dan Israel menerima pengajaran dari guru yang merupakan seorang imam atau nabi. Oleh sebab itu seorang guru sangat dihormati dan terkenal di masyarakat serta menganggap guru sebagai pembimbing untuk mendapat keselamatan dan dihormati bahkan lebih dari orang tua mereka.

Guru di Indonesia

Secara formal, guru adalah seorang pengajar di sekolah negeri ataupun swasta yang memiliki kemampuan berdasarkan latar belakang pendidikan formal minimal berstatus sarjana, dan telah memiliki ketetapan hukum yang syah sebagai guru berdasarkan undang-undang guru dan dosen yang berlaku di Indonesia.

Guru tetap

Guru yang telah memiliki status minimal sebagai calon pegawai negeri sipil, dan telah ditugaskan di sekolah tertentu sebagai instansi induknya. Selaku guru di sekolah swasta, guru tersebut dinyatakan guru tetap jika telah memiliki kewewenangan khusus yang tetap untuk mengajar di suatu yayasan tertentu yang telah diakreditasi oleh pihak yang berwenang di kepemerintahan Indonesia.

Guru honorer

Guru tidak tetap yang belum berstatus minimal sebagai calon pegawai negeri sipil, dan digaji per jam pelajaran. Seringkali mereka digaji secara sukarela, dan bahkan di bawah gaji minimum yang telah ditetapkan secara resmi. Secara kasat mata, mereka sering nampak tidak jauh berbeda dengan guru tetap, bahkan mengenakan seragam pegawai negeri sipil layaknya seorang guru tetap. Hal tersebut sebenarnya sangat menyalahi aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Secara fakta, mereka berstatus pengangguran terselubung. Pada umumnya, mereka menjadi tenaga sukarela demi diangkat menjadi calon pegawai negeri sipil melalui jalur honorer, ataupun sebagai penunggu peluang untuk lulus tes calon pegawai negeri sipil formasi umum.

Di Indonesia, sering terjadi honorer siluman. mereka dianggap siluman karena diangkat menjadi calon pegawai negeri sipil dengan prosedur yang menyalahi ketentuan hukum yang berlaku. Hal ini disebabkan adanya rekasaya masa kerja selaku honorer, dan bidang pekerjaan mereka selaku honorer yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang mereka miliki. Bahkan, ada yang mengandalkan surat keputusan dari orang yang tidak memiliki kewenangan yang benar dan tepat berdasarkan undang-undang yang berlaku di Indonesia.

Guru Populer

Nov
25

Peluhmu Saat Engkau Lngkahkan Kakimu
Tak pernah Kau Hiraukan
Demi untuk menemui kami
Menemui kami yang membutuhkanmu
Membutuhkan ilmu dan Tauladanmu

Oh guruku Kau begitu Muliya
Tak Kan pernah kulupa
Kasih sayang mu sungguh tak terkira

Jalan yang kulalui
Kadang penuh derita namun tak pernah Kau perdulikanya

marahmu Kadang membuat Kami takut
Ancamanmu Kadang membuat Kami Ciut
Namun kami tau itu kasihmu
Itu hanyalah Bentuk kekawatiranmu Pada kami
Yang kadang tak bisa memahami diri sendiri

Di Hari ini 25 November, Kami bersyukur Bisa bertemu denganmu
Melihat Wajahmu
melihat senyummu
Di hari ini 25 November Kami Ucapkan
SELAMAT HARI GURU
untuk Pendidikku Yang penuh kasih
Kami sayang Padamu
Biarkanlah perasaan ini selalu bersama kami
I Love U Guruku.

Nov
24

Extrakurikuler dan Muatan Lokal

 

Muatan Kurikulum

Muatan Kurikulum SMP Walisongo Pecangaan  meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan dan kedalamannya sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, dan muatan lokal yang dikembangkan oleh sekolah serta kegiatan pengembangan diri.

 

Mata Pelajaran

Mata pelajaran terdiri dari :

Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Biologi, Fisika, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Pendidikan Jasmani, Seni Budaya, dan Teknologi Informasi Komunikasi, Conversation.

Pembelajaran setiap mata pelajaran dilaksanakan dalam suasana yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat antara peserta didik dan pendidik.

Metode pembelajaran diarahkan berpusat pada peserta didik. Guru sebagai fasilitator mendorong peserta didik agar mampu belajar secara aktif, baik fisik maupun mental. Selain itu, dalam pencapaian setiap kompetensi pada masing-masing mata pelajaran diberikan secara kontekstual dengan memperhatikan perkembangan kekinian dari berbagai aspek kehidupan.

 

Muatan Lokal

Letak geografis SMP Walisongo Pecangaan yang berada di lingkungan yang cukup asri akan banyak memberi warna  terhadap proses pembelajaran  di kelas. Oleh karena itu, program Muatan Lokal yang dipilih adalah yang berkaitan dengan kondisi lingkungan sekitar sekolah yang sesuai dengan visi dan misi sekolah, khusus untuk kelas VII sampai kelas IX, yaitu Pendidikan Bahasa Jawa dan Keterampilan Ukir dan Keterampilan Seni Dekorasi khusus kelas VII dan VIII.

 

Kegiatan Pengembangan Diri

Pengembangan diri diarahkan untuk pengembangan karakter peserta didik yang ditujukan untuk mengatasi persoalan dirinya, persoalan masyarakat di lingkungan sekitarnya, dan persoalan kebangsaan. Sekolah memfasilitasi kegiatan pengembangan diri seperti berikut ini.

  1. Bimbingan Konseling, mencakup hal-hal yang berkenaan dengan pribadi, kemasyarakatan, belajar, dan karier peserta didik.
  2. Bimbingan Konseling diasuh oleh guru yang ditugaskan.
  3. Pengembangan diri yang dilaksanakan sebagian besar di luar kelas (ekstrakurikuler)  diasuh oleh guru pembina. Pelaksanaannya secara reguler setiap hari  tertentu yang disepakati siswa dan pembina,  yaitu :

 

Praja Muda Karana (Pramuka)  

Adalah Kegiatan extra wajib yang harus diikuti oleh siswa pada jenjang tertentu sebagai sarana latihan siswa agar memiliki ketrampilan hidup, berjiwa disiplin, mandiri dan mampu survive dalam menghadapi kehidupan.

 

Patroli Keamanan Sekolah (PKS) 

Adalah extra yang bersifat pilihan untuk semua siswa putra maupun putri sebagai sarana bagi siswa untuk mengasah kemampuan siswa dalam ketrampilan hidup, berjiwa disiplin, mandiri dan mampu survive dalam menghadapi kehidupan. Selain itu juga dapat memahami dan mematuhi peraturan lalu lintas.

 

Palang Merah Remaja (PMR)

Adalah extra yang bersifat pilihan untuk semua siswa putra maupun putri sebagai sarana bagi siswa untuk mengasah kemampuan siswa dalam bidang kesehatan. Selain itu, kegiatan ini juga sebagai sarana untuk membiasakan pola hidup bersih dan sehat.

 

 

Olah raga :

Adalah kegiatan extra yang bersifat pilihan sebagai sarana mengembangkan kemampuan dibidang olahraga seperti Sepak Bola, Bola Basket, Bola Volly, Renang, Pencak Silat yang diminati siswa agar bakat siswa tersalurkan dengan baik. Adapun untuk saat ini SMP Walisongo Pecangaan telah memiliki padepokan Pencak Silat dan club sepak bola, serta memiliki Sekolah Sepakbola (SSB) yang menelurkan beberapa atlit khususnya kota Jepara, dan juga pernah meraih juara 2 kompetisi Sepakbola di Jawa Barat.

 

Seni :

Al-Qur’an Bittaghoni

Adalah kegiatan ektra yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas bacaan Al-Qur’an siswa. Kegiatan ini diikuti oleh semua siswa yang belum baik bacaan dan hafalan al-Qur’annya sampai dinyatakan lulus. Serta

 

Keterampilan Bordir

Adalah kegiatan extra yang bertujuan memberikan bekal keterampilan membordir bagi siswa agar dikemudian hari mempunyai keahlian yang dapat dipergunakan dan dikembangkan sebagai bekal untuk hidup bermasyarakat. Adapun sasarannya adalah para siswa masing masing bisa mengoperasikan dan mengenal mesin jahit dan bordir.

 

Keterampilan Dekorasi

Merupakan salah satu pelajaran muatan local yang ada di SMP Walisongo Pecangaan, yang bertujuan memberikan bekal keterampilan dekorasi bagi siswa agar dikemudian hari mempunyai keahlian yang dapat dipergunakan dan dikembangkan sebagai bekal untuk hidup bermasyarakat. Adapun sasarannya adalah para siswa masing masing bisa membuat beberapa macam seni dekorasi dari bahan kertas maupun Janur.

 

Paduan Suara (Koor)

Kegiatan ini bertujuan untuk mendirikan atau membuat sebuah group vocal yang terdiri dari siswa putri maupun putra, agar dikemudian hari dapat bermanfaat bagi diri sendiri maupun bagi sekolah itu sendiri.

 

Nasyid atau Qasidah

Adalah kegiatan yang bertujuan untuk mencari bakat – bakat terpendam yang dimiliki oleh masing – masing siswa. Dalam kegiatan ini sasaran utamanya adalah bagaimana cara memainkan alat musik dan bernyanyi dengan diiringi musik maupun tanpa musik dengan benar sesuai dengan nada atau not yang dibunyikan.

 

Foto – Foto Kegiatan

Nov
22

Bagi para Alumni SMP Walisongo di mohon kirimkan saran dan kritik buat kemajuan Almamater ini.
Trims’s

Nov
22

SMP Walisongo Pecangaan berdiri tanggal 15 Juli 1986 dengan Surat Keputusan Yayasan Walisongo Pecangaan Nomor : 015/YWS/I/1986. Perkembangan Lembaga Pendidikan di bawah naungan Yayasan Walisongo Pecangaan termasuk SMP Walisongo Pecangaan, tidak bisa lepas dari sebuah Lembaga Pendidikan Nahdlatul Ulama yang berdiri pada tanggal 5 Agustus 1965, yaitu Muallimin NU. Lembaga inilah yang menjadi cikal bakal bagi seluruh lembaga pendidikan yang sekarang dikelola oleh Yayasan Walisongo yakni : Madrasah Aliyah, SMP dan SMA Walisongo.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.